Laut Merah Membara, ini Sebabnya

Laut merah membara
Ilustrasi kapal melintas di Laut Merah

Jepang Terseret

Jepang juga ikut terseret dalam ketegangan di laut merah, setelah tiga perusahaan pelayaran besar negeri itu mengatakan akan menangguhkan rute melalui Laut Merah.

Serangan milisi Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal di jalur penting tersebut menjadi penyebab.

“Kami telah menangguhkan navigasi melalui Laut Merah bagi semua kapal yang kami operasikan,” kata juru bicara Nippon Yusen atau dikenal sebagai NYK Line, diberitakan AFP.

“Keputusan tersebut adalah untuk menjamin keselamatan awak kapal,” tambahnya.

Sementara itu dua perusahaan pelayaran besar Jepang lainnya yang ikut menangguhkan pelayaran adalah Mitsui O.S.K. Lines dan Kawasaki Kisen Kaisha. Juru bicara keduanya juga mengonfirmasi.

Sejumlah Negara Menghindari Laut Merah

Akibat serangan Milisi Houthi kepada kapal-kapal yang melintas di laut merah membuat sejumlah negara mengalihkan perjalanan mereka melintasi Laut Merah.

Serangan Houthi di Laut Merah tidak hanya meningkatkan tarif angkutan laut, tetapi juga dipastikan angkutan udara. Prediksi kenaikan tarif ini terjadi akibat arus perdagangan global semakin terganggu.

Dalam beberapa minggu terakhir, tarif angkutan laut telah meningkat sebesar US$10,000 atau sekitar Rp156 juta per kontainer berukuran 12,1 meter (40 kaki). Kenaikan terjadi karena kapal kontainer berusaha menghindari serangan di Laut Merah dengan melakukan perjalanan jauh di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan, mengalihkan muatan lebih dari US$200 miliar dari konflik di perairan tersebut.

BACA JUGA:  Membaca Pidato Donald Trump Akankah Amerika Jadi Negara Pendamai?

Para analis menyebut penundaan perdagangan maritim kemungkinan besar mendorong beberapa pengecer untuk beralih ke angkutan udara. Karena perusahaan yang biasanya mengirimkan barang mereka melalui laut ingin memastikan pengiriman lebih cepat.

Ini artinya kargo udara akan memainkan peran yang lebih besar dalam ekosistem rantai pasokan. Angkutan udara dapat memangkas waktu pengiriman menjadi hanya beberapa hari dibandingkan dengan angkutan laut yang memakan waktu berminggu-minggu.

“Beberapa pengirim barang sudah berada dalam mode bertahan hidup dengan satu tujuan di benak mereka: ‘Pastikan barang saya bergerak dengan cara apa pun yang memungkinkan,'” kata wakil presiden layanan kelautan global di C.H. Robinson, Matthew Burgess, seperti dikutip CNBC International.

Burgess menyebut, untuk mengantisipasi masuknya konversi laut ke udara, perusahaan logistik transportasi tersebut telah menambah kapasitas udara tambahan di jalur perdagangan inti. Hal ini agar barang tetap dapat bergerak.

“Kita akan melihat lonjakan tarif angkutan udara,” kata Global Head of Shipping and Ports Research HSBC, Parash Jain.

Ia mengatakan para pengamat industri memperkirakan kenaikan tersebut akan terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Terutama menjelang liburan Tahun Baru Imlek di Februari.

BACA JUGA:  Pesawat Japan Airlines Tabrakan

Biasanya, terjadi peningkatan ekspor ke luar Asia selama periode liburan tahunan. Perusahaan mencoba mengangkut lebih banyak barang sebelum bisnis tutup selama dua minggu.

Sementara itu, raksasa logistik Jerman, DHL, mengatakan bahwa perusahaannya telah menerima beberapa permintaan. Tetapi belum banyak perubahan.

“Kami memperkirakan hal ini akan berubah jika situasi di Laut Merah terus berlanjut,” kata kepala angkutan udara untuk DHL Global Forwarding Americas, Andreas Von Pohl,

Mengutip data Xeneta, sebenarnya harga spot kargo udara secara keseluruhan mencatat penurunan sebesar 18% dibandingkan Desember 2023. Tarif spot kargo udara rata-rata global mencapai puncaknya pada sekitar US$2,6 per kg pada Desember.