Israel Menggila, Korban Tewas Tembus 6.144 Jiwa

Setidaknya militer Israel melancarkan serangan udara ke sebuah masjid di Tepi Barat. Hal ini menewaskan sedikitnya dua orang dalam apa yang oleh para pejabat Palestina disebut sebagai “eskalasi berbahaya”.

Masjid tersebut, mengutip New York Post, berada di kamp pengungsi Palestina yang padat di Jenin, Tepi Barat bagian utara. Militer Israel mengatakan pihaknya menargetkan “kompleks teror” bawah tanah di bawah masjid, yang dikatakan digunakan oleh Hamas dan Jihad Islam untuk mengatur serangan yang akan segera terjadi.

“Bom waktu,” kata Letkol Richard Hecht, juru bicara militer Israel, menyebut aktivitas yang terjadi di bawah masjid. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen.

Kementerian Luar Negeri Palestina menyebut serangan itu sebagai eskalasi berbahaya dalam penggunaan pesawat tempur. Kementerian menyebut dalam sebuah pernyataan bahwa Israel tampaknya membawa taktik yang digunakan di Jalur Gaza ke Tepi Barat.

Setelah jeda selama hampir dua dekade, Israel melanjutkan serangan udara terbatas di Tepi Barat pada bulan Juli. Sebagian besar menggunakan drone, selama dua hari pengepungan dengan dalih untuk membasmi kelompok bersenjata.

BACA JUGA:  Tahun Baru, Hamas Kirim Rudal ke Tel Aviv

Sebelumnya, Israel telah menyerang gereja di Gaza dan mengakibatkan korban tewas. Paling tragis, setelah Israel melancarkan serangan roket ke RS. Al Ahli di Gaza.

CNBC International melaporkan bagaimana konvoi 20 truk berisi pasokan medis, makanan dan air melewati Penyeberangan Rafah ke Gaza, Sabtu. Sementara 14 truk lainnya menyeberang, Minggu.

“Bantuan tersebut akan terus mengalir setiap hari,,” kata Utusan Khusus untuk Masalah Kemanusiaan Timur Tengah, David Satterfield.

“Tujuannya adalah agar aliran bantuan terus mengalir ke Gaza,” tegasnya.

Satterfield juga mengatakan bahwa Hamas telah diperingatkan. Jika mereka mengganggu bantuan, ada kemungkinan mereka akan berhenti.

“Potensi invasi darat Israel ke Gaza juga dapat mempersulit penyaluran bantuan,” tambahnya.

Ia menegaskan rakyat Gaza harus bisa hidup aman di Gaza. Hal itu, katanya, memerlukan diakhirinya kemampuan Hamas dalam memerintah, mengeksploitasi, dan mendominasi di kantong itu.