Dia mengemukakan, anak berkebutuhan khusus (ABK) sebenarnya pengetahuannya banyak, tetapi kepercayaan dirinya terkadang dipengaruhi oleh unsur eksternal. Misalnya, pengaruh gawai (gadget), sehingga mereka lambat menerima informasi dan daya pikirnya menurun.
Ungkapan syukur
Dr.dr. Jumraini Tammasse, Sp.S.Subsp.NRE(K), mengawali paparannya mengemukakan, kegiatan seminar ini sebenarnya merupakan ungkapan rasa syukur atas atas bertambahnya usia, sehingga dipilih kegiatan saling berbagi ilmu.
Kepala Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Unhas itu menyebutkan, “austism spectrum disorder’ (ASD) atau austisme sebenarnya merupakan neuro diversitas gangguan yang memerlukan terapi pada perkembangan anak. Seorang anak tidak bisa dipaksa sama, tetapi diusahakan harus bisa.
ASD ini disebabkan oleh perkembangan genetik, perkembangan bagaimana ibunya makan, melakukan aktivitas dan lain-lain, serta dipengaruhi lingkungannya. Gangguan tumbuh kembang anak ini bisa disebabkan pada saat prenatal (sebelum lahir, selama kehamilan) dan perinatal (sekitar saat kelahiran bayi, pada usia 22 minggu hingga 7 hari setelah lahir).
“Ada ketimpangan pada vitamin otak yang diproduksi di perut yang bisa disebabkan lambung tidak sehat. Saat tidur merupakan kesempatan bagi otak membuang sampah yang tidak diperlukan tubuh,” ujar Dokter Jum, panggilan ibu dua anak yang sudah malang melintang mengikuti kegiatan seminar di beberapa negara dan daerah di Indonesia ini.
Khusus anak yang bersifat hiper aktif, biasanya lebih fokus pada satu hal tertentu. Waktu belajar yang bagus bagi anak-anak bangun pukul 03.00 dinihari, setelah tidur pada pukul 21.00.
“Orang yang bermimpi itu karena tidurnya tidak teratur,” ujar Dokter Jum yang juga menjabat Direktur Pelayanan Medik IMC.
“Deficit Hyperacitivity Disorder” (DHD) bagi seorang anak yang menderita autis adalah sulit membaca bahasa tubuh, sensitif terhadap sesuatu, dan suka menyendiri. Dalam melakukan terapi anak yang menderita gangguan seperti ini harus dilakukan secara kolaboratif multidisiplin.
Pendekatan terapi, kata Jumraini, dapat dilakukan secara multidisiplin, melakukan intervensi diri di lingkungan keluarga, dan lingkungan sekitar, unsur farmakologi (obat). Antara lingkungan rumah dan guru harus saling memberi informasi.
“Jangan mulai dengan hukuman, tetapi pahami pola perilaku dan rujuk jika perlu. Catatan harian juga boleh digunakan sebagai bahan diagnosis ke tetanaga profesional,” saran dr.Jum.
Mulai MPLS
Pemateri terakhir, Ananda Zhafira, M.Psi, Psikolog menyebutkan, “neurodivergent” (seseorang yang memiliki cara kerja dan fungsi otak yang berbeda dari standar umum seperti pada autisme) sumbernya adalah variasi kerja seorang anak.


br
br
br






br
br






br