Denyut Kehidupan di Car Free Day (9): Jejeran Kukusan Hasil Bumi Uapi Jl. Boulevard

Tidak dijual banyak, dipajang apik, lebih khawatir tak bisa habis terjual karena seorang ibu yang menjaga kompor sudah cukup merepotkan jika ditambah dengan pengawet lemari pendingin. Aji Ariani lebih mengerti rasanya cukup dibandingkan kisanak dan nisanak yang sibuk memenjarakan mata pada layar alih-alih ikut terbawa aroma manisnya ubi dan manisnya pepaya. Bersamanya, bak ibu dan dua anak yang menggelar karpet kuning asik mengunyah bersama balitanya.

Makanan tidak hanya menjadi kebutuhan yang menyimpan kalori dan memori, namun juga bagaimana tatanan masyarakat terselip di dalamnya. Siapa yang membeli apa, siapa yang menjual apa, dan apa yang dijajakan di mana.

Konstruksi dapur akan terlihat kompleks bila dilihat lebih dekat dan dikunyah pelan-pelan. Bagaimana bahan pangan hasil jerih payah petani dipisahkan dari tanah yang mengandungnya. Bulir keringat supir mobil pick up yang menempel dengan kaus bersablon paslon yang sudah tak tercium pedulinya. Pembeli yang mencari kenyang dalam saldo yang enggan berbayang.

Umbi-umbian bukan cuma sumber karbohidrat kompleks. Telur bukan cuma sumber protein terjangkau. Bubur kacang hijau bukan cuma kudapan nenek yang lezat rasanya. Namun juga ada seorang Ibu yang membagikan sedikit potongan dapurnya kepada siapa yang membutuhkan kenyang sebelum akhirnya didudukkan tanggung jawab sosial tak berujung setiap hari Minggu. (*).

BACA JUGA:  Alumni MA Pesantren Moderen Tarbiyah Takalar Ada yang Lanjut Kuliah di Marokko dan Cina