Denyut Kehidupan di Car Free Day (9): Jejeran Kukusan Hasil Bumi Uapi Jl. Boulevard

Tangannya cekatan mengemas bubur ayam dalam thin wall. Menutupnya rapat berharap hangatnya berlindung pada bulir-bulir bubur meski lama bersemayam di bawah penutup plastik itu. Kerupuk bawang aneka warna juga dijajakan melengkapi hierarki bubur ayam bertekstur lembut, gurih, berpesta di mulut bersama kriuknya kerupuk.

Adanya kukusan di tengah melonjaknya hidangan penuh tepung cukup menjanjikan kesehatan perut dan dompet. Tidak melibatkan poster gonjreng, teriakan monoton, pemandangan mengukus dan menyiapkan makan pagi seolah menjadi pertunjukan sementara bagi siapa pun yang berjalan di depan lapak.

Pemandangan yang biasa terlihat di dalam singgasana pribadi tanpa aba-aba muncul saat mencari nasi. Berakhir membawa memori tentang ibu yang dulu selalu menyiapkan makan pagi. Nenek yang bangun lebih cepat dari ayam jantan, hingga ingatan tentang tetangga beberapa blok terlintas ketika kulit umbi-umbian yang mulai layu dikukus melebarkan aromanya.

Laju kota beradu dengan agenda jalan kaki dan obrolan hangat bersama keluarga memenuhi Jalan Boulevard mengajak sepuluh jari kaki di bawah untuk melangkah lebih pelan dan lebih pelan lagi. Perut yang rindu akan suasana dapur belakang di rumah nenek bagaikan konsep mula Aji Ariani menyajikan haru di tengah kukus meskipun ia memetik rezeki di jalan masih berumur varietas sawi; 3 minggu.

BACA JUGA:  Hampers Makassar: Melepaskan Kepenatan dengan Bermain Game

Tidak dijual banyak, dipajang apik, lebih khawatir tak bisa habis terjual karena seorang ibu yang menjaga kompor sudah cukup merepotkan jika ditambah dengan pengawet lemari pendingin. Aji Ariani lebih mengerti rasanya cukup dibandingkan kisanak dan nisanak yang sibuk memenjarakan mata pada layar alih-alih ikut terbawa aroma manisnya ubi dan manisnya pepaya. Bersamanya, bak ibu dan dua anak yang menggelar karpet kuning asik mengunyah bersama balitanya.

Makanan tidak hanya menjadi kebutuhan yang menyimpan kalori dan memori, namun juga bagaimana tatanan masyarakat terselip di dalamnya. Siapa yang membeli apa, siapa yang menjual apa, dan apa yang dijajakan di mana.

Konstruksi dapur akan terlihat kompleks bila dilihat lebih dekat dan dikunyah pelan-pelan. Bagaimana bahan pangan hasil jerih payah petani dipisahkan dari tanah yang mengandungnya. Bulir keringat supir mobil pick up yang menempel dengan kaus bersablon paslon yang sudah tak tercium pedulinya. Pembeli yang mencari kenyang dalam saldo yang enggan berbayang.

Umbi-umbian bukan cuma sumber karbohidrat kompleks. Telur bukan cuma sumber protein terjangkau. Bubur kacang hijau bukan cuma kudapan nenek yang lezat rasanya. Namun juga ada seorang Ibu yang membagikan sedikit potongan dapurnya kepada siapa yang membutuhkan kenyang sebelum akhirnya didudukkan tanggung jawab sosial tak berujung setiap hari Minggu. (*).