Denyut Kehidupan di Car Free Day (5): Dalgona dan ‘Garam Halus’ Resep Escape, Menakar Gula dan Menangkal Serbuk Putih

Yang paling mengancam, suatu malam sekitar pukul 23.00, paman temannya meminta temannya itu membawa barang haram tersebut ke rumah bos mereka.

“Malam itu kami bertiga. Saya paling belakang, karena rumahnya tidak terlalu jauh kami berjalan, tapi saya takut sekali kalau ada polisi dan ditangkap,” ungkap Tanika pelan dan di wajahnya tampak menyisakan kengerian.

Bos besar di lingkungan itu digambarkan sebagai Ibu Felicia (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan yang terlihat baik. Memiliki rumah berlantai, dan sering bersedekah ayam geprek di hari Jumat. Kontras inilah yang membuat Tanika berharap “bisa cari pekerjaan lain yang lebih halal,” meskipun ia tetap menerima makanan sedekahnya.

Bagi banyak anak, pemandangan seperti itu bisa melahirkan luka mendalam. Namun bagi Tanika, kekerasan, penangkapan, bahkan penggerebekan sudah menjadi “hal seru” tontonan harian yang ia saksikan tanpa pilihan.

Sebuah bentuk normalitas yang keliru, tapi nyata di lorong-lorong sempit kota.
Kepala Kejaksaan Negeri Makassar, melalui laporan tahunan 2023, mencatat 132 kasus anak di bawah umur yang ditangani, terbanyak adalah kasus pembusuran dan kekerasan fisik. Sementara UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak mencatat 273 anak menjadi korban kekerasan sepanjang 2024–2025. Tekanan ekonomi disebut sebagai pemicu utama.

BACA JUGA:  Perubahan Hakiki Hanya Dengan Metode Nabi Saw.

Tanika tak bicara soal kebijakan zonasi CFD atau harga gula. Ia hanya ingin lorongnya aman. Setiap kali menjual dalgona, ia seolah menukar ketakutan dengan harapan baru.

Ayahnya selalu berpesan agar tidak ikut arus gelap yang menjerat pamannya. Dan sejauh ini, Tanika menepatinya.
Pada usia 12 tahun, ia telah memahami arti resiliensi lebih dari banyak orang dewasa.

Di lorong yang berdarah, ia memilih jalan yang manis. Sebab baginya, setiap dalgona bukan sekadar permen, melainkan bukti kecil bahwa harapan masih bisa dijual, bahkan di tengah aroma karamel dan bayang logam busur. (*).