Ia sempat bereksperimen dengan tambahan pemanis. Namun kembali ke bahan alami karena pembeli lebih menyukai rasa yang lembut dari gula asli. Sejak saat itu, pelanggannya mulai bertambah. Promosi pun ia lakukan lewat media sosial, dibantu oleh adiknya yang mengelola akun Instagram dan Facebook. Dari sana, banyak pelanggan baru datang. Bahkan sampai ada yang memesan kue untuk acara besar.
Harga kuenya pun terjangkau. Mulai dari lima ribu hingga dua puluh ribu rupiah. Ia mengeluarkan kartu nama kecil dari dompetnya, bertuliskan daftar harga dan nomor kontak. “Kalau ada acara nikahan, bisa pesan lewat WA,” katanya berpromosi sembari melayani pelanggan lain yang menanyakan harga sikaporo.
Lapaknya ramai, tapi suasana tetap hangat. Pembeli bercakap santai dan aroma pisang kukus pelan-pelan memenuhi udara pagi.
Ibu Vika mungkin tampak seperti pedagang sederhana. Tapi kisahnya menyimpan keteguhan yang tak sederhana: ketekunan, cinta pada tradisi, dan keyakinan bahwa rasa jujur akan menemukan jalannya sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk makanan modern yang silih berganti, ia tetap berdiri di sudut Boulevard dengan senyum lembut dan wadah kue di depannya. Menjual bukan hanya makanan, melainkan juga warisan rasa yang mengikat masa lalu dan masa kini. (*).












