Denyut Kehidupan di Car Free Day (3) : Skateboarding, Cara Dede Menikmati Kebebasan

Skateboarding
Bermain skateboarding di CFD

Dede justru dengan senang hati memperbolehkan saya dan teman saya, Aqifah, mencoba memainkan skateboard miliknya. Ia bahkan dengan sabar mengajari cara menjaga keseimbangan dan meluncur perlahan di atas papan itu.

Cara menggunakannya tidak semudah yang terlihat. Pada akhirnya saya menyerah. Setiap kali papan kecil itu bergerak, saya merasa akan kehilangan keseimbangan dan jatuh. Tapi tawa kecil Dede membuat semuanya terasa menyenangkan.

Ternyata anggapan saya bahwa sekelompok pemain skateboard bersikap “nakal” tidak sepenuhnya benar. Dari pengalaman sederhana itu, saya terlalu cepat untuk menilai seseorang dengan melihat luarnya saja.

Seringkali, di balik gaya dan penampilan yang kerap disalahartikan, tersimpan ketulusan, keramahan, dan keterbukaan yang tak terlihat di permukaan. Momen itu mengajarkan saya bahwa penilaian cepat sering menipu, dan untuk benar-benar memahami seseorang, kita perlu memberi waktu, perhatian, dan kesediaan untuk melihat lebih jauh dari apa yang tampak.

Pagi perlahan beranjak menuju siang. Matahari makin tinggi, bayangan Dede dan teman-temannya kian memendek di atas aspal. Dentuman papan bersahut-sahutan, menandai semangat yang belum juga surut.

BACA JUGA:  H Meinsani Kecca Dengar Aspirasi Warga RW 13 Buntusu, Isu Infrastruktur Jadi Sorotan

Di tengah hiruk-pikuk CFD Boulevard, kehadiran mereka menjadi pengingat kecil bahwa kota bukan hanya tempat untuk beraktivitas, melainkan juga ruang untuk mengekspresikan diri.

Sebagian orang mungkin mengira mereka hanyalah sekelompok anak muda dengan papan kayu beroda. Namun bagi Dede, setiap kali roda itu berputar, ada kebebasan yang ikut bergerak bersamanya. Kebebasan untuk tetap menjadi diri sendiri, meski di tengah keramaian yang sering kali menilai hanya dari tampilan luar.(*).