Denyut Kehidupan di Car Free Day (2); Di Tengah Sepi Deru Kendaraan, Ada Warna-Warni Kehidupan

Denyut kehidupan
Penjual kue di CFD Boulevard

Bagi mereka, hasilnya bukan dihitung dari rupiah, tapi dari perubahan kecil yang tumbuh di hati siapa pun yang datang belajar.

“Kita nggak cari untung, Kak. Kita cuma ingin bantu orang yang belum bisa ngaji supaya bisa. Targetnya anak muda, tapi siapa pun boleh,” ujarnya lagi.
Setelah saya melontarkan sejumlah pertanyaan spontan kepada penjaga tenant itu, rasanya masih ada yang kurang. Saya merasa perlu mencari tenant serupa untuk diwawancarai. Angle yang saya ambil adalah sisi surga lain yang tak dilirik.

Sekitar seratus meter melangkah, Adrian rupanya belum juga menemukan cerita menarik. Saya sempat menawarinya beberapa topik. Ada penyanyi difabel. Ada pula tukang bersih-bersih yang tak ingin melihat sampah berserakan. Namun entah apa alasannya, semua itu belum juga menarik perhatiannya.

Kami terus berjalan sekitar lima menit hingga akhirnya menjumpai seorang lelaki tua, bukan asli Makassar, melainkan berasal dari NTB. Tepatnya Lombok. Lelaki paruh baya itu bernama Rijal.

Saya sempat heran ketika lelaki tua itu menyebut jualannya dengan nama “rambut nenek”. Baru kali ini saya mendengar jajanan dengan sebutan unik itu. Adrian akhirnya memutuskan untuk membeli. Sekadar membuka obrolan agar bisa mewawancarainya.
Sambil mereka berbincang, saya ikut menikmati jajanan yang disebut rambut nenek itu. Dari tampaknya, benar saja warnanya putih keabu-abuan, mirip rambut nenek sungguhan. Tapi rasanya manis dan lembut. Seperti gula yang meleleh di lidah.

BACA JUGA:  Sarkodes, Asri Bakri Mulai Tebar Pesona, PKB: Bismillah

Usai wawancara dengan penjual rambut nenek itu, langkah kami masih berlanjut. Di antara riuhnya pengunjung dan aroma jajanan yang berseliweran di udara, kami mencoba mencari lagi. Siapa tahu ada kisah serupa dengan narasumber pertama. Kisah tentang ladang pahala yang tersembunyi di balik kesibukan dan hiruk pikuk pasar amal itu.

Tapi semakin jauh melangkah, kian sepi juga temuan kami. Tak ada lagi tenant yang seperti tadi. Yang dengan sederhana menjual sesuatu bukan hanya untuk keuntungan, melainkan juga untuk kebaikan.

Kami terus berjalan, menyelisik setiap sudut. Namun hasilnya nihil. Rasanya mulai pusing memikirkan, mau menulis apa dengan modal wawancara yang tak sampai empat menit.

Akhirnya, kami pun memutuskan kembali ke lokasi pelatihan, sambil berharap masih ada kisah lain yang bisa diselamatkan dari hari itu. Ternyata yang selamat itu, kisah yang saya tulis ini. (*).