Denyut Kehidupan di Car Free Day :(14-Habis): “Menjaga Rasa & Warisan: Kue Pancong Pak Nasir

Nurenci Ananda Pasaribu
Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP/Magang ‘identitas’

NusantaraInsight, Makassar — Udara pagi di Boulevard baru saja menghangat ketika jarum jam menunjukkan pukul 07:40. Langit Makassar masih biru muda, tapi jalanan sudah dipenuhi langkah- pengunjung Car Free Day (CFD). Suara musik, senam bercampur dengan aroma makanan yang menyeruak dari tenda-tenda kecil di sepanjang jalan.

Orang-orang datang dengan berbagai tujuan. Berlari, berjalan santai, berburu sarapan, atau sekadar mencari udara segar yang tak bisa mereka beli di hari kerja.

Di antara riuh itu, ada asap tipis naik dari cetakan besi berwarna kehitaman. Asapnya wangi, manis, dan sedikit mengingatkan pada masa kecil aroma kelapa parut yang dipanggang pelan di atas bara.

Di balik cetakan itu, seorang pria mengenakan kaus polos biru dan topi lusuh tengah menuang adonan kental berwarna putih. Tangan kirinya menahan cetakan. Tangan kanannya bergerak lincah. Seolah sudah hafal setiap takaran tanpa perlu menimbang tiap adonan. Dialah Muhammad Nasir (29 tahun), penjual kue pancong yang setia menempati jalur telaah CFD Boulevard setiap Minggu pagi. Kue pancong yang ia jual bukan sekadar jajanan biasa.

BACA JUGA:  Politik Baliho: Ilham Arief Sirajuddin GubernurKu Sulawesi Selatan 2024

“Ini resep dari nenek. Dari dulu sampai sekarang masih sama, saya jaga biar tidak hilang,” ucapnya pelan sambil terus mengawal hasil adonannya yang sudah ‘tertanam’ di cetakan besi panas.
“Pagi-pagi saya jualan di pasar terong, terus ke Veteran depan BCA. Kalau Minggu baru ke sini,” katanya mengungkap agenda rutin hari yang dijalaninya.

Ia bercerita, kadang berangkat pukul lima, dengan motor dan gerobak kecil. Adonan kue sudah ia siapkan dengan istrinya dari rumah dengan campuran kelapa parut, terigu kompas, dan gula asli tanpa pemanis buatan.

Kue pancong buatannya tampak sederhana, tapi ketika adonan itu mulai dipanggang dan mulai berbentuk padat, aromanya langsung menarik perhatian. Orang-orang berhenti sejenak, melirik, lalu mendekat. Sebagian menunggu sambil melipat tangan di dada, sebagian lain memotret dengan kamera ponsel.

“Saya jualan sejak 2018,” katanya sambil tersenyum kecil ketika aku menyapanya.

“Awalnya dari orang tua, saya cuma teruskan biar nggak hilang. Ini kan kue tradisional, sudah dari nenek, ke orang tua, baru ke saya.”

BACA JUGA:  Aisyiyah Cabang Maccini Kota Makassar Membina 4 Pimpinan Ranting

Suaranya tenang, tapi ada kebanggaan halus di ujung kata-katanya. Ia tidak hanya sekadar berjualan makanan tapi ia sedang menjaga warisan.

Cetakan kue pancong yang ia gunakan pun sudah jarang dijual. “Sekarang di toko-toko itu tinggal cetakan kue pukis, kalau yang ini sudah susah sekali dicari,” katanya sambil menunjuk besi tua yang sudah kehitaman tapi tetap kuat.