Denyut Kehidupan di Car Free Day (13): Semangkuk Bubur “Dari Roda Odong-Odong ke Roda Kehidupan”

Pak Irwan, sang supir odong-odong, bercerita tentang kehidupannya dengan nada tenang. Seolah segala lelah dan getir sudah menjadi bagian alami dari hidup yang harus disyukuri.

Cara ia memandang dunia membuat saya tertegun. Ada keikhlasan yang jarang saya temui. Ada kebahagiaan yang tumbuh bukan dari berlimpahnya materi, melainkan (tapi) dari tawa anak-anak yang ia antar berputar keliling CFD setiap hari Minggu.

Usai perbincangan itu, saya melanjutkan langkah mencari sarapan semangkuk bubur di pinggir jalan. Namun di tengah perjalanan, hati saya tergerak untuk kembali. Entah kenapa, ada rasa yang belum tuntas. Saya membeli seporsi makanan berat dan kembali ke tempat Pak Irwan mangkal.

Saya bukan orang kaya, tapi saat itu saya merasa berutang. Bukan dalam bentuk uang atau barang, melainkan pada cerita yang begitu berharga. Cerita yang dibagikan dengan tulus tanpa pamrih.

Cerita yang telah mengubah cara pandang saya tentang hidup dan kehidupan ini. Kisah seorang Irwan yang telah memberi saya banyak pelajaran tentang arti ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup ini.

BACA JUGA:  Mengasah Keterampilan Public Speaking, Mahasiswa Komunikasi Unismuh Makassar Adakan Workshop Inspiratif

Tidak mudah bagi seseorang untuk membuka diri dan menuturkan kisah hidupnya, apalagi kisah tentang perjuangan yang mungkin penuh luka.
Di cerita CFD pagi itu dan dari Pak Irwan, saya menyadari satu hal. Kadang pelajaran paling berharga justru datang dari tempat paling sederhana mungkin.

Dari odong-odong tua, Tawa anak-anak dan seorang lelaki yang tetap tersenyum meskipun hidup tak selalu mudah. Di balik kesederhanaan pekerjaannya, tersimpan perjuangan tanpa henti untuk bertahan hidup dengan keterbatasan yang ada.
Sepulang Car Free Day (12/10-2025)