Denyut Kehidupan di Car Free Day (13): Semangkuk Bubur “Dari Roda Odong-Odong ke Roda Kehidupan”

Di tengah hiruk-pikuk dan keramaian yang tak kunjung berhenti, hanya dia yang tampak diam menatap dengan mata teduh ke arah lautan pengunjung yang lalu lalang tanpa henti. Wajahnya yang sedikit keriput memancarkan keheningan yang kontras dengan dinamika sekitar.

Saya berhenti sejenak. Menatapnya lebih dekat. Odong-odongnya terlihat sederhana. Tak sesemarak stan-stan lain yang dipenuhi lampu warna-warni dan banner besar. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang membuat saya bertanya-tanya.

“Apakah ia sedang menikmati momen ini? Atau justru merasakan kesepian di tengah keramaian?,” saya membatin.

Bapak itu tidak seperti pedagang lain yang sibuk menawarkan dagangan atau menyapa pengunjung. Ia berdiri tegak, seolah menjadi saksi bisu dari cerita-cerita yang berlalu di Boulevard ini cerita tentang mereka yang berolahraga, mereka yang berdagang, dan mereka yang sekadar ingin melepas penat. Dia tidak berteriak mempromosikan “jualannya”. Hanya menunggu. Itu pun semuanya anak-anak. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya, lalu menatap ke arah anak-anak yang berlarian menuju odong-odong miliknya.

BACA JUGA:  Gaji Rendah, Semangat Kinerja Damkar SBT Terhambat

Momen itu membuat saya tersadar di tengah riuhnya kehidupan, masih ada orang-orang yang berdiri diam, penuh kesabaran dan harapan. Seperti bapak odong-odong ini, yang mungkin bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan (tapi) juga menebar senyum dan kebahagiaan kecil bagi anak-anak yang menunggu giliran naik wahana sederhananya.

Rasa penasaran mendorong saya untuk mendekat. Mengikuti suara riang anak-anak yang tumpah di udara pagi itu. Di antara deretan warna-warni odong-odong yang berputar perlahan, pandangan saya tertuju pada seorang pria berwajah teduh, Irwan Dg Tiro, 51 tahun, supir odong-odong yang sudah enam tahun menghabiskan harinya di jalanan Makassar.

Beliau menyambut saya dengan senyum ramah, meskipun gurat lelah tampak jelas di wajahnya. Pagi itu, di sela tawa anak-anak yang menunggang odong-odongnya, kami berbincang singkat. Dari ceritanya saya tahu, profesi ini bukanlah pilihan, melainkan jalan satu-satunya yang tersisa.

“Modalnya dari bos,” katanya pelan.
“Saya cuma bawa saja, setiap hari,” Suaranya datar, namun di balik kata-kata sederhana itu tersimpan cerita panjang tentang perjuangan.
Enam tahun lalu, hidupnya berubah drastis.

BACA JUGA:  Denyut Kehidupan di Car Free Day (9): Jejeran Kukusan Hasil Bumi Uapi Jl. Boulevard

Sebuah kecelakaan membuat kedua kakinya tak lagi sama. Ia tak lagi bisa bekerja seperti dulu, dan sejak saat itu, satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah setir odong-odong dan tawa anak-anak di kursi warna-warninya. Setiap hari, Irwan menggantungkan hidup pada suara musik mainan dan riuh bahagia yang menemaninya dari pagi hingga senja. Suara itulah yang menjadi iklan odong-odongnya.
Dalam tatapannya yang teduh, saya melihat kepasrahan sekaligus kekuatan. Ia tidak banyak menuntut. Tidak pula mengeluh.