Denyut Kehidupan di Car Free Day (11): Irwan dan Roda-Roda Kebahagiaan

Meskipun begitu, Irwan tak larut dalam keluh. Ia memilih sibuk menjaga keseimbangan antara bekerja dan istirahat.

“Kalau malam pulang jam sepuluh, ya istirahat. Besok subuh jalan lagi. Semua demi anak-anak,” ujarnya.

Dalam hidupnya yang kini banyak dihabiskan di atas roda, waktu menjadi hal yang relatif. Siang dan malam bercampur, tapi semangatnya tak pernah padam.

Di sela tawa anak-anak yang berputar di atas odong-odong, Irwan tampak ikut tersenyum.

“Enaknya main sama anak-anak, rasanya kayak muda lagi,” katanya sambil tertawa kecil.

Ia tak peduli jika usia terus bertambah, selama musik anak-anak terus berbunyi, hidupnya terasa ringan. “Banyak yang tidak percaya kalau saya sudah lima puluhan,” tambahnya tertawa.

Senyum Irwan tak pernah lepas saat melihat anak-anak menaiki odong-odong

Bagi Irwan, kebahagiaan sederhana saja. “Bahagia itu kumpul sama keluarga,” ujarnya tanpa ragu. Di matanya, keluarga adalah tujuan akhir dari setiap putaran roda. Dan di tengah teriknya matahari Makassar, dengan keringat di pelipis dan kaki yang sesekali kaku, ia terus mendorong odong-odongnya perlahan seperti menolak berhenti.

BACA JUGA:  Menghidupkan Kalamullah dalam Jemari: Asa Baru Sahabat Tunanetra Makassar Belajar Al-Qur'an Braille

Sebelum berpamitan, ia sempat menyampaikan satu pesan untuk pemerintah kota: “Tolonglah, diperhatikan orang yang di bawah. Jangan pilih-pilih, banyak yang lebih susah tapi malah tak kelihatan. Kami cuma mau hidup layak, tanpa harus kehilangan pekerjaan.”

Di Car Free Day Boulevard, roda-roda warna milik Irwan terus berputar. Lagu anak-anak terus bergema, menutupi derit logam tua dan napas lelah pemiliknya. Tapi di balik itu semua, ada kisah keteguhan seorang ayah yang menolak berhenti, meski jalannya sudah tak lagi sempurna. (*).