News  

“Black Box” Belum Ditemukan, Evakuasi Jenazah Terkendala Medan

Black box
Gambar suasana tim SAR gabungan di Puncak G,Bulusaraung Pangkep. (Courtesy Basarnas).

Hingga berita ini diturunkan, penyebab kecelakaan belum dapat dipastikan. Otoritas penerbangan bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diperkirakan akan melakukan investigasi lanjutan setelah lokasi kejadian berhasil diamankan dan data awal berhasil dikumpulkan.

Mendatangi rumah korban

Dari Jakarta, Kompas.com memberitakan, Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono Sabtu malam bertolak menuju rumah tiga pegawainya yang hilang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sulawesi Selatan. Wahyu ingin memberikan dukungan moral kepada keluarga para pegawai tersebut.

“Pak Menteri mau langsung geser ke rumah pegawai yang sekarang sedang dicari. Saya mohon doa. Ini kan lagi status search, dan keluarga juga perlu kita temani,” kata Staf Khusus Menteri KP Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Media Doni Ismanto dalam konferensi pers di Kementerian KP, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Wahyu membenarkan ada tiga pegawainya yang hilang bersama pesawat ATR milik Indonesia Transport. Mereka sedang dalam tugas pemantauan wilayah perairan dari udara.

“Kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia. Tim air surveillance dari PSKP atau dari Dektorat Jenderal PSKP sejumlah tiga orang,” jelas Wahyu.

BACA JUGA:  Gema Doa dari Kaki Gunung Lokon: Peringatan 3 Tahun Berpulangnya Virendy Marjefy Wehantouw

Ketiga pegawai adalah Ferry Irawan yang merupakan analis kapal pengawas, Deden Mulyana sebagai pengelola barang milik negara, dan Yoga Naufal yang merupakan operator foto udara.

Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi temuan robekan kain yang menyerupai logo Kementerian KP di lokasi pencarian pesawat.

Pesawat ATR 42-500 melakukan penerbangan dengan rute Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada pagi tadi, Sabtu. Kemudian pukul 04.23 UTC (sekitar 11.23 WIB — atau 12.23 Wita), Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center mengarahkan pesawat mendekat ke landasan pacu Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Namun dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.

ATC kemudian memberikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur. Saat arahan terakhir disampaikan, komunikasi dengan awak pesawat mendadak terputus. Merespons kondisi tersebut, ATC mendeklarasikan fase darurat DETRESFA atau Distress Phase sesuai ketentuan. (*/mda).