Karena itu, ia selalu menyarankan bahwa setiap DKM perlu melakukan rapat kerja. Agar program yang dibuat lebih terencana. Setiap bidang dan orang juga akan tahu apa yang menjadi kerja dan kegiatannya. Jangan hanya menunggu program dan kegiatan diketok dari atas. Namun, DKM perlu punya inisiatif sendiri, dengan membuat program dan kegiatan sendiri. Hanya dengan begitu, DKM dan DMI akan hidup, tumbuh, dan berkembang sebagai organisasi.
Dengan penyusunan program dan kegiatan melalui rapat kerja maka akan ada masukan dari anggota. Partisipasi dan aspirasi anggota bisa ditampung dan dikonversi menjadi program dan kegiatan yang sesuai kebutuhan anggota.
“Di Makassar ini, ada 15 kecamatan. Bila semua DKM dan DMI membuat rapat kerja sendiri, luar biasa nanti output-nya. Saya harap, DMI Kota Makassar bisa lebih berkontribusi lagi bagi DMI-DMI di kecamatan,” terangnya.
Iwan Azis menambahkan, “Kita ini satu kesatuan, satu semangat dengan visi yang sama. Citra sebagai penguasa tunggal dan perilaku one man show itu, saya hilangkan dalam model kepemimpinan DMI Panakkukang. Sebagai ketua dan pengurus DMI, kami adalah kolektif kolegial.”
Iwan Azis kembali mengulang komitmennya bahwa kewenangannya sebagai ketua, semua sudah didistribusikan. Walaupun dirinya hadir dalam suatu pelantikan, tidak harus dia yang melantik. Bahkan memberikan kata sambutan pun, tidak harus beliau yang sampaikan sebagai ketua. Biar semua orang bisa merasakan dan memetik manfaat dari keberadaannya di DMI. Dengan begitu, mereka sadar dan lebih bertanggung jawab terhadap organisasi, karena merasa sistem mengapresiasi dan mengakomodasi keberadaannya.
“DMI ini organisasi kemasyarakatan, milik publik, milik umat. Bukan perusahaan pribadi yang mesti tergantung dan hanya dimonopoli oleh satu orang sebagai pemilik. Itulah hakikat DMI sebagai organisasi,” pungkas Iwan Azis. (*)












