Lontara+ dan SALAMA Jadi Andalan Pemkot Makassar dalam Penilaian IGA Kemendagri 2026

“Ini menjadi bagian dari tujuh program strategis yang kami siapkan untuk memastikan digitalisasi berjalan terarah dan terukur,” katanya.

“Kami ingin menjadikan Lontara+ sebagai penghubung antara masyarakat dan pemerintah, terutama dalam hal informasi dan pelayanan,” sambung mantan CEO PSM itu.

Selain inovasi digital Lontara+, Munafri juga memperkenalkan inovasi non-digital bernama SALAMA atau Sahabat Anak Lewat Afirmasi Aman Bencana yang diinisiasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar.

Disebutkan, berbeda dengan Lontara+, Salama menyasar penguatan literasi dan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini melalui pendekatan edukatif dan psikologis.

“Program ini dirancang agar anak-anak sekolah tidak hanya memahami langkah penyelamatan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki kesiapan mental sehingga tidak mudah panik saat menghadapi situasi darurat,” terangnya.

Menurutnya, inovasi tersebut dikembangkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, terus memberikan edukasi kepada siswa.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah metode Hypno-Shield, yakni pendekatan afirmasi positif berbasis hipnoterapi yang terintegrasi dengan psikologi untuk membangun mentalitas tangguh pada anak.

BACA JUGA:  Buka Workshop Vlog PKK Makassar, Melinda Aksa: Ubah Ide Jadi Peluang Lewat Teknologi

Melalui metode tersebut, anak-anak diberikan pemahaman kebencanaan dengan pendekatan yang lebih menyenangkan, sekaligus dilatih untuk tetap tenang dan memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

Appi menerangkan bahwa, pelaksanaannya melibatkan BPBD, Dinas Pendidikan, psikolog, Komunitas Hipnoterapi Makassar, tenaga pendidik, relawan, serta pihak sekolah.

Selain itu, personel BPBD juga dihadirkan sebagai sahabat anak, sehingga edukasi kebencanaan tidak terasa kaku, tetapi lebih dekat dan mudah dipahami.

“Jadi, anak-anak harus dibekali pengetahuan sejak dini. Mereka tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapi situasi tersebut,” paparnya.

Lebih lanjut, Ketua IKA FH Unhas itu menuturkan, inovasi SALAMA juga dirancang agar dapat direplikasi di sekolah maupun daerah lain dengan menyesuaikan karakteristik dan potensi risiko bencana setempat.

Dari implementasi program tersebut, tercatat sekitar 400 keluarga sekolah telah terlibat. Sementara itu, tingkat pemahaman siswa terhadap langkah-langkah kesiapsiagaan bencana meningkat dari 45 persen menjadi 80 persen.

“Tentu, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari hadirnya sebuah program, tetapi juga dari dampak dan manfaat,” tuturnya.

BACA JUGA:  Perihal Berita Bangunan Liar Tutup Drainase, Andi Anugerah : itu Bukan Wilayah Kelurahan Parangtambung

Karena itu, Pemkot Makassar terus mendorong kolaborasi lintas sektor, penguatan regulasi, serta keberlanjutan inovasi agar program yang dibangun tidak berhenti pada satu periode pemerintahan.

Besar harapan bahwa inovasi ini tidak hanya berjalan selama masa pemerintahan sekarang, tetapi menjadi fondasi digitalisasi yang berkelanjutan.

“Yang paling penting, inovasi harus aplikatif, mudah digunakan, informatif, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Munafri. (*)