Kunjungan Wisatawan Nusantara ke Makassar Tembus 6,18 Juta, Tumbuh 12 Persen di Tahun 2025

“Namun, pada tahun 2025, jumlah tersebut diproyeksikan hanya 78.080 kunjungan, atau kisaran sekitar 18,32 persen dibandingkan 2024,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa penurunan wisatawan mancanegara ini bersifat sementara dan dipengaruhi faktor eksternal, termasuk penyesuaian pasca periode lonjakan sebelumnya, gangguan mobilitas akibat bencana alam di sejumlah destinasi lain, serta sensitivitas pasar internasional terhadap isu keamanan dan stabilitas kawasan.

Pada Agustus 2025, tercatat terjadi lonjakan pembatalan (cancelation) kunjungan wisatawan mancanegara, yang berdampak pada kerugian sektor perhotelan hingga sekitar Rp7 miliar, terutama pada beberapa hotel berbintang.

Kondisi ini dipicu oleh adanya peringatan perjalanan (travel warning) serta isu stabilitas politik dan demonstrasi yang memengaruhi persepsi keamanan.

Dia menegaskan, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa traffic wisatawan tidak hanya bergantung pada event, tetapi juga pada kondusivitas daerah secara menyeluruh.

“Baik sisi keamanan, kenyamanan, dan stabilitas kota adalah faktor utama dalam menarik wisatawan mancanegara,” tegasnya.

Dari sisi durasi tinggal, rata-rata lama menginap wisatawan nusantara di Kota Makassar pada tahun 2024 tercatat 1,63 malam, dan diperkirakan sedikit menurun menjadi 1,48 malam pada 2025. Sementara itu, wisatawan mancanegara rata-rata menginap 2,52 malam pada 2024, dan diproyeksikan menjadi 2,47 malam pada 2025.

BACA JUGA:  May Day 2025, Serikat Buruh Dialog Bareng Wali Kota Makassar

Meski demikian, secara agregat, jika digabungkan antara wisatawan nusantara dan mancanegara, total kunjungan wisatawan ke Kota Makassar pada 2025 tetap mengalami peningkatan sekitar 10 persen, dengan wisatawan nusantara menjadi penopang utama pertumbuhan.

Mantan Kepala BPBD Kota Makassar itu mengungkapkan, pihaknya juga mencatat bahwa tren kunjungan wisatawan menunjukkan peningkatan signifikan di atas bulan Juni (semester kedua), seiring padatnya kalender event dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Dari sisi ekonomi, sektor pariwisata menempati peringkat ketiga sebagai subsektor pendukung utama perekonomian Kota Makassar.

Ketangguhan sektor ini dinilai tidak perlu diragukan, mengingat saat pandemi Covid-19 pariwisata sempat terkontraksi, namun satu tahun setelahnya langsung tumbuh hingga 4 persen, meski belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal.

Berdasarkan estimasi internal, rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara di Makassar berada pada kisaran Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per kunjungan, sementara wisatawan mancanegara berkisar Rp4 juta hingga Rp6 juta per kunjungan, mencakup akomodasi, konsumsi, transportasi, dan belanja ekonomi kreatif.