Ma’REFAT INSTITUTE Lanjutkan Diskusi Pergerakan Bung Hatta

NusantaraInsight, Makassar — Pergerakan kebangsaan tidak pernah bergerak lurus. Ia mengalami pasang surut, perpecahan, dan tekanan, sebelum menemukan kembali arah perjuangannya. Dinamika itu menjadi pokok bahasan dalam diskusi Membaca Kembali Bung Hatta Seri ke-14 yang digelar Ma’REFAT Institute Sulawesi Selatan bersama Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (FA-SPBH) serta Book Club Alumni SPBH-1, Minggu, 18 Januari 2026.

Diskusi bertema “Dinamika Pergerakan Kebangsaan” ini berlangsung di Kantor LINGKAR–Ma’REFAT Makassar. Forum dimulai pukul 14.00 WITA dengan Arifin bertindak sebagai moderator. Kali ini menghadirkan pembaca buku sekaligus pemantik, masing-masing: Ahmad Hasan, Penelaah Teknis Kebijakan pada Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus aktivis Lingkar Donor Darah Makassar (LDDM) serta Rahmadi Nurdin, peneliti LINGKAR (Lembaga Inisiasi Lingkungan dan Masyarakat) yang juga Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Ahmad Hasan membuka perbincangan dengan mengulas pemikiran Bung Hatta mengenai strategi pergerakan nasional. Ia menjelaskan bahwa kritik Hatta lahir pada masa ketika pergerakan nasional berada dalam tekanan berat kolonialisme, terutama setelah penangkapan dan pembubaran organisasi-organisasi pergerakan pada akhir 1920-an.

BACA JUGA:  K-apel Temui Sekcam Tamalate Bahas Persiapan OBLONG Edisi Juni

Bagi Bung Hatta, penangkapan para pemimpin politik semestinya tidak mengugurkan gerakan rakyat, karena rakyatlah yang menjadi pusat perjuangan. Dengan kondisi perpolitikan saat itu, di mana represifitas pemerintah kolonial menemui puncaknya, gerakan kebangsaan haruslah berfokus pada upaya pendidikan dan pengorganisasian rakyat, bukan lagi bertumpu kepada figur pemimpin-pemimpin politik.

Inilah yang membawa Hatta bersama Sjahrir membentuk PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) pasca penangkapan Soekarno. Bagi Hatta, “Tidak perlu tepuk dan sorak, kalau kita tidak sanggup berjuang, tidak tahu menahan sakit. Indonesia Merdeka tidak akan tercapai dengan agitasi saja. Perlu kita tahu bekerja dengan teratur; dari agitasi ke organisasi.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pergerakan harus bertumpu pada kesadaran rakyat yang luas, bukan pada tokoh tertentu.

Menurut Hasan, Bung Hatta menilai bahwa pergerakan tidak cukup bertumpu pada mobilisasi massa dan pidato-pidato berapi-api. Hatta mendorong pergeseran strategi “dari agitasi ke organisasi.” Agitasi dipandang hanya mampu membangkitkan semangat sesaat, sementara organisasi diperlukan untuk membangun kekuatan yang berkelanjutan.

BACA JUGA:  LCM Jeneberang dan LCB Candra Kirana, Bagikan Sepatu Gratis di Makassar dan Gowa

Sesi berikutnya, Rahmadi Nurdin menguraikan dinamika internal pergerakan nasional, terutama konflik dan perpecahan pasca-represi kolonial. Ia menjelaskan bahwa Bung Hatta tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa pergerakan nasional terdiri dari berbagai aliran dengan strategi dan pendekatan berbeda.