Ma’REFAT INSTITUTE: 80 Tahun Merdeka, Kedaulatan Indonesia Masih Rapuh

Firman, salah seorang peserta yang bekerja di bidang media mengungkap, kedaulatan di dunia digital pun terancam oleh maraknya hoaks, disinformasi, dan propaganda asing. Akun-akun bayaran dan berita palsu dibuat secara masif untuk memecah belah dan menggoyahkan persatuan.

“Tantangan ini bukanlah hal baru,” ungkap Satriawan, Peminat Gerakan Koperasi, Pelaku UMKM dan Pembaca Bung Hatta. Bung Hatta jauh-jauh hari telah memperingatkan ancaman terhadap kedaulatan bangsa, namun peringatan itu seolah tak digubris. Pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, dinilai belum sepenuhnya mendorong rakyat untuk mandiri. Sejumlah program yang dijalankan justru dianggap melemahkan independensi masyarakat.

Padahal, menurut prinsip tata kelola pemerintahan, tugas utama pemerintah hanya dua: memberikan pelayanan dan melakukan pemberdayaan. Di luar itu, negara seharusnya membuka ruang agar rakyat mampu membangun kemandirian ekonomi, sosial, dan politiknya.
Di lain sisi, lemahnya pemahaman aparatur negara terhadap konstitusi disebut menjadi kendala serius. Banyak pejabat publik dianggap tidak memahami secara utuh tugas dan tanggung jawabnya dalam membangun negara.

BACA JUGA:  Komunitas Anak Pelangi Ajak Lurah Parang Tambung Bahas Sampah dan Kebun Lorong

Dengan situasi tersebut, penguatan aspek spiritualitas dinilai menjadi pondasi penting untuk menghadapi tantangan bangsa ke depan. Direktur Eksekutif Ma’REFAT INSTITUTE, Mohammad Muttaqin Azikin menjelaskan, “Asupan rohani penting sebagai benteng menghadapi godaan di berbagai lini kehidupan.” Spiritualitas dianggap dapat membentuk karakter dan ketahanan nasional di tengah derasnya ancaman non-militer.

Pertemuan yang berjalan selama dua jam ini, seperti biasa dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, dosen, aktivis lingkungan, dan juga pelaku usaha serta karyawan swasta.[RN]