“Telur yang dijadikan penganan saat maulid memiliki makna filosofis, telur lambang kelahiran dan dengan bentuknya yang bulat bermakna dunia tempat dilahirkan manusia dan tempat kehidupan mereka, kemudian telur kita bagi tiga yaitu kulit atau cangkang telur disimbolkan Iman. Putih telur disimbolkan Islam, dan kuning telur disimbolkan Ihsan. Demikian halnya putih telur melambangkan kesucian dan keagungan, kuning telur melambangkan keemasan. Jadi telur yang ditusuk saat maulid melambangkan bahwa Iman, Islam, dan Ihsan harus disatukan dan ditegakkan ke atas berdasar kalimat Allah swt. Ini dikarenakan telur yang ditusuk bambu melambangkan adanya kelurusan, kekuatan, keteguhan layaknya pohon bambu yg tumbuh menjulang tinggi. Adapun batang pohon pisang dimaknai sebagai simbol kebermanfaatan. Demikianlah maulid diharapkan memberikan makna kepada umat Islam untuk selalu teguh, lurus dan menjulang tinggi meneladani Nabi saw sebagai manusia mulia dan luhur,” ulasnya.
Sebelum mengakhiri tausiyahnya Maman juga memberikan pesan atau kiat apabila kita menderita suatu penyakit.
Menurutnya, jika kita tertimpa suatu penyakit maka harus melakukan tiga evaluasi diri.
“Evaluasi pertama yaitu ingat ki Allah dengan banyak berzikir, kedua ingat ki Rasul dengan banyak bersholawat dan ketiga minta maaf kepada orang tua. Insya Allah jika evaluasi ini kita lakukan kita diberikan kesehatan oleh Allah,” pungkasnya.
Peringatan Maulid ini, juga dimeriahkan dengan penampilan ibu-ibu K-Apel dengan membawakan lagu-lagu qasidah.
Tak mau ketinggalan para remaja K-Apel juga ikut mempersembahkan 1 lagu religi dan 1 puisi karya Rahman Rumaday berjudul “Kebenaran”.
Seperti biasanya, acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga diramaikan dengan rebutan telur Maulid yang tertancap di batang pisang.












