K-apel : Awal yang Tidak Romantis

Saat itu, rasanya seperti berjalan di lorong gelap, niat baik disalahpahami, kepedulian dicurigai. Tapi justru di situ saya belajar satu hal penting yakni “tidak semua kebaikan harus segera dimengerti.” Niat baik butuh diperjuangkan oleh karena “niat baik pun bisa disalahpahami, tetapi kebenaran tidak pernah membutuhkan pembelaan yang berlebihan.” Saya memilih diam, bukan karena takut, tetapi karena percaya.

Saya selalu memegang satu prinsip sederhana yakni
selama saya tidak mencelakai orang lain, tidak berniat jahat kepada siapa pun, maka Allah SWT bersama saya.

Dan keyakinan itu menenangkan. Seperti firman Allah,
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” ~ QS. Al-Baqarah: 153. #BerbagiItuCinta

Maka saya memilih diam yang bekerja, bukan gaduh yang membela diri.
#BerbagiItuCinta

Menata dengan Cinta, Membina dengan Iman

Di tengah tuduhan itu, saya tidak membalas dengan kemarahan. Saya memilih merapikan niat. Menata langkah dengan cinta. Membina dengan iman. Karena saya percaya, “cinta yang dirawat dengan sabar akan menjelma menjadi kepercayaan.”

Kami terus datang ke lorong. Terus menyapa anak-anak, ibu-ibu. Terus belajar bersama. Pelan-pelan, tembok kecurigaan runtuh oleh konsistensi. Karena pada akhirnya, masyarakat menilai bukan dari kata-kata, tetapi dari keteguhan sikap.

BACA JUGA:  DPC ABPEDNAS Maros Resmi Dilantik

“jangan sibukkan hatimu dengan penilaian manusia, sebab yang paling tahu isi hatimu adalah Allah.” ~ Imam Al-Ghazali, Maka saya memilih menenangkan diri, bukan membalas. #BerbagiItuCinta

Imam Al-Ghazali pernah berpesan, “perbaiki hatimu, maka Allah akan memperbaiki urusanmu.” Dan di situlah K-Apel menemukan jalannya. #BerbagiItuCinta

Bukan Soal Lama, Tapi Soal Konsisten

Hari ini, ketika K-Apel telah berjalan 15 tahun, kami tidak sedang membanggakan usia. Kami hanya bersyukur bisa bertahan. Karena sejatinya, ini bukan soal lamanya, tapi soal konsistensi dan apa yang telah dibuat.

Alhamdulillah, K-Apel sudah 15 tahun konsisten dan istiqamah berbagi cinta. Bertahan bukan karena jalan selalu mudah, tapi karena kami memilih untuk terus berjalan. Seperti kata bijak, “air yang menetes terus-menerus mampu melubangi batu.”
Dan kami percaya, sesuatu yang dilakukan dari hati akan sampai ke hati.
#BerbagiItuCinta

Tuduhan-tuduhan itu tinggal cerita. Yang tersisa adalah kepercayaan. Anak-anak yang dulu kami dampingi kini tumbuh menjadi remaja yang berani bermimpi. Orang tua yang dulu ragu kini menjadi mitra dan penjaga gerakan.

BACA JUGA:  Ma’REFAT Institute Menalar Ulang Pancasila dalam Realitas Kekinian

Saya meyakini bahwa “waktu adalah saksi paling jujur.” Ia membuktikan niat, menyaring kepura-puraan, dan menguatkan kebenaran. #BerbagiItuCinta