_By Rahman Rumaday_
NusantaraInsight, Makassar — Suatu ketika, saya duduk di markas K-apel usai belajar anak-anak.
Karpet yang sejak siang setia menopang tubuh-tubuh kecil anak-anak terasa lebih hangat setelah tiga jam menemani mereka belajar. Ada sisa-sisa tawa yang belum benar-benar pergi.
Suara membaca yang terbata, lalu gelak kecil yang pecah tanpa sebab, masih tinggal di kepala seperti gema yang enggan pamit.
Saya tidak langsung beranjak.
Saya diam.
Membiarkan sore menyelesaikan dirinya sendiri.
Lalu, tanpa nada dramatis, sebuah pertanyaan muncul begitu saja di dalam hati yakni,
_”Kenapa saya memilih bertahan di sini?”_
Bukan logika yang menjawab.
Bukan pula hitungan untung-rugi.
Yang datang justru sebaris kalimat yang pelan-pelan naik dari ingatan, seperti doa lama yang tahu kapan harus mengetuk:
_”Innamal a’malu binniyat, wa innama likullimri’in ma nawa.”_
Segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai apa yang ia niatkan.
Saya tersenyum kecil.
Mungkin inilah jawabannya.
Bukan soal besar-kecilnya yang dikerjakan, tapi kepada siapa semua ini diarahkan.
Allahu ghoyatuna.
_Allah adalah tujuan akhir dari setiap langkah._
*Ar-Rasul qudwatuna.*
_Rasulullah adalah teladan dalam setiap cara berjalan._
Jika Allah adalah tujuan, maka Rasulullah adalah peta.
Jika Allah adalah arah, maka Nabi adalah contoh bagaimana melangkah dengan adab, sabar, dan cinta.
Dan di sanalah saya merasa dikuatkan.
Bahwa bertahan di ruang kecil ini bukan soal heroisme, tapi soal meniru satu teladan lama yakni hadir, mendidik, dan mencintai manusia apa adanya.
Saya teringat satu ayat yang selalu terasa jujur setiap kali dibaca yang artinya :
_”Bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”_ ~ QS. Al-An’am : 162
Ayat itu terdengar seperti pengakuan paling tulus seorang hamba.
Seolah berkata,
_”Jika hidup ini milik Allah, maka lelah pun seharusnya sampai kepada-Nya.”_
Saya menatap rak buku yang sederhana.
Sebagiannya lusuh.
Sebagiannya bekas sumbangan.
Tak ada yang mewah.
Namun justru di sanalah saya merasa cukup, bahkan kaya.
Saya teringat perkataan Ali bin Abi Thalib :
_”Nilai seseorang ditentukan oleh apa yang ia berikan, bukan oleh apa yang ia miliki.”_
Saya mengangguk pelan.
Mungkin saya tidak punya banyak.
Tapi selama masih bisa memberi waktu, perhatian, dan ilmu yang seadanya itu sudah lebih dari cukup.
Batin saya belum selesai berdialog.
Sebuah pertanyaan lain menyusul, lebih sunyi, lebih jujur :
_”Kalau suatu hari tidak ada yang melihat, kamu masih mau melakukan ini?”_












