“Keenam saudara saya ini beserta pasangannya serta anak-anak mereka yang sekaligus ponakan saya adalah ikatan lama yang mendalam dalam persaudaraan. Kami tumbuh dan berkembang di sebuah rumah mungil di Makassar, sepelemparan batu dari Stadion Mattoangin. Di bawah atap seng itulah kita semua menuliskan kisah yang berbeda tapi dengan membagi kegembiraan dan kesedihan yang sama dalam satu pertalian satu darah,” urai Uceng.
Terakhir, dengan tanpa mampu menahan haru dan isak Uceng terkhusus menyampaikan kalam kepada kepala keluarga di rumah itu, yang sudah berpulang di tahun 2017, Abba K.H Mochtar Husein allahyarham.
“Hampir seluruh kemampuan saya untuk berdiri di atas mimbar, berpidato, menyampaikan secara lisan, dan tulisan sesuatu adalah hasil didikan dan melihat beliau sebagai penceramah di berbagai masjid kota maupun kampung. Juga mengintip beliau mengajar di berbagai universitas dan sekolah,” ungkap Uceng di sela-sela mampu menguasai perasaan emosionalnya mengenang sang Ayahanda tercinta.
Uceng mengenang, sesaat sebelum beliau meninggal, ada dua janji yang dia sampaikan ke Abba-nya. Dia akan mengurus buku-buku yang jumlahnya sangat banyak sepeninggal beliau (ini sudah dilakukan) dan kedua menuntaskan gelar guru besar yang akhirnya saya peroleh hari ini.
“Doa saya terkhusus di hari ini kepada beliau, semoga Allah ampuni dosa-dosanya, rahmatinya, maafkan segala kesalahannya, kemudian, semoga ia diberikan rahmat, ampunan, dan syafaat, “ ungkap Uceng.
Ketua OSIS SMANSA Makassar ini, secara khusus memberikan ucapkan terima kasih drg. Irena Esfandria, istrinya dengan berbagai “love language” yang ia curahkan. Empat malaikat saya sudah mulai mendewasa dan meremaja, Zahra Aurelia, Zahwa Priscilia, Muhammad Izzan Aristo, dan Muhammad Izzar Syirazi, saya titipkan pesan sebagaimana Ali bin Abi Thalib menitipkan pesan mendalamnya, “tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan,” Uceng mengunci orasinya.
Tolak disapa “Prof”
Dalam sebuah dialog dengan mantan Anggota Komisi III DPR RI, Akbar Faizal, langsung di kampus Fakultas Hukum UGM, sebagaimana ditayangkan di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored sejak 5 Januari 2026 Uceng ternyata menolak disapa “Prof” saat diajak berinteraksi di luar ruang akademik.
“Profesor Zainal Arifin Mochtar, Prof,” Akbar Faizal menyapa.
Keduanya akrab, sebab sama-sama “Anak Makassar”, sebutan perantau dari Sulawesi Selatan.
Uceng yang semula membidik Teknik Geologi UGM ini namun dua kali gagal akhirnya memilih Fakultas Hukum, pun langsung terkekeh.












