Michael membawakan no. 7 (berdasarkan lagu-lagu tradisi Papua “Yamko Rambe Yamko” dan “Apuse”) sedangkan Samuel Dazhill membawakan no. 8 (berdasarkan lagu Manado, “O Inani Keke”).
Samuel juga menunjukkan kedalaman musikalitas dan kekayaan warna pianistiknya di karya Ananda berjudul “Good Morning, Night”. Semua musikus tampil prima, juga secara visual dengan kostum dari Alleira Batik.
“Gen Alpha of Classical Music” juga merayakan Tahun Baru Cina (Imlek) yang jatuh seminggu setelahnya, 29 Januari.
MUSIKUS MUDA SEMAKIN FOKUS
Sedangkan.Komponis & Pianis Ananda Sukarlan sendiri memainkan Rapsodia Nusantara no. 36 berdasarkan lagu Banten “Dayung Sampan” kemudian diganti liriknya oleh penyanyi Teresa Teng yang membuatnya terkenal di dunia sebagai “Tian Mi Mi”.
Juga, Freya Murti Pramudita mempersembahkan puisi Tan Lioe Ie “Malam Cahaya Lampion”.
Kalau tahun 2024 musik klasik Indonesia digemparkan oleh kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) yang memecahkan rekor dengan 477 peserta dari berbagai instrumen dan vokal klasik, tahun 2025 kembali akan menyaksikan para pemusik terbaik tanah air berkompetisi di Ananda Sukarlan Award (ASA).
Mungkin jumlah peserta ASA tidak akan sebanyak KPN+ karena memang syarat keikutsertaan ASA yang cukup sulit dan ketat untuk menyaring peserta yang memang sudah berkemampuan bermusik cukup tinggi, tapi ASA akan terus menjadi barometer kualitas musikus klasik Indonesia sejak 2008.
Hal ini telah dibuktikan dengan kualitas teknik dan musikalitas para pemusik yang tampil kemarin.
“Setelah 2024 musik klasik Indonesia menoreh sejarah dengan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) saya lihat semakin lama para musikus muda semakin fokus. Di bidang vokal, semoga karya-karya saya bisa menarik para vokalis untuk mendalami dunia sastra, karena lagu-lagu saya selalu berdasarkan puisi-puisi yang berkelas dan inspiratif,” ucapnya.
Di antara para finalis saja mereka menyanyikan tembang puitik berdasarkan puisi dari Penyair Sitor Situmorang, Emi Suy, Wiji Thukul, Nanang Suryadi, Sapardi Djoko Damono dan juga Penyair Internasional seperti Emily Dickinson, Walt Whitman dan William Shakespeare.
“Semoga Rapsodia Nusantara saya membuat para pianis dan fans mereka untuk lebih sadar betapa kayanya musik daerah kita. Beda propinsi, beda bahasa itu berarti beda sistem ritmis, struktur melodi, bahkan tangga nadanya. Negara kita sangat kaya dengan seni dan budaya, dan itu yang ingin saya ajak para musikus klasik di negeri kita ini untuk ikut menyadari dan mencintainya” kata Ananda Sukarlan.
Ada banyak perubahan untuk Ananda Sukarlan Award 2025 dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama untuk kategori tembang puitik, ada satu syarat yang telah direvisi oleh Ananda Sukarlan sendiri seperti para penyanyi tingkat profesional (18 tahun ke atas) harus menyanyikan 3 (tiga) lagu dari 3 penyair Indonesia yang berbeda (selain lagu klasik “barat” seperti karya Franz Schubert, Aaron Copland dan komponis “Barat” lainnya).
Perubahan ini disebabkan banyaknya penyanyi yang memiliki penyair favorit (terutama Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar atau Joko Pinurbo) di edisi-edisi sebelumnya menyanyikan 3 lagu, semuanya dari penyair yang sama.
Revisi “3 penyair yang berbeda” ini memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi karya-karya penyair lain, bahkan dari nama-nama yang jarang dan belum pernah mereka dengar sebelumnya, termasuk para penyair muda.
“Kompetisi Piano Nusantara Plus benar-benar telah menggeser paradigma generasi alpha dalam musik klasik. Usia semakin muda, dan kualitas semakin tinggi. Ini tentu berdampak ke Ananda Sukarlan Award dan juga berbagai kompetisi lainnya yang biasanya diselenggarakan oleh sekolah-sekolah musik. Kelihatannya AI [artificial intelligence – red] juga menyadarkan banyak orangtua bahwa pekerjaan sebagai seniman -lah yang masih belum bisa digantikan oleh AI, sehingga mereka semakin terbuka dengan anaknya bermusik”, lanjut sang pianis lulusan Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda dengan predikat summa cumlaude ini.












