BPS juga mencatat bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Semester I-2025 mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Edy menjelaskan (dalam Kompas.com 07-08-2025) bahwa ekonomi nasional pada triwulan II-2025 tumbuh 5,12 persen secara tahunan, sementara triwulan I hanya 4,87 persen.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Semester I-2025 tercatat 4,99 persen atau lebih rendah dari capaian Semester I-2024 yang mencapai 5,08 persen. Edy menguraikan, metode perhitungan ini dilakukan dengan menjumlahkan nilai tambah dari triwulan I dan II, kemudian dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (cumulative to cumulative/c to c).
“Karena pertumbuhan ekonomi di triwulan I cukup rendah, maka meskipun triwulan II lebih tinggi, tetap belum mampu mengerek pertumbuhan kumulatif semester ke level di atas 5 persen,” jelas Edy.
*Tanggapan Menteri Keuangan*
Menanggapi rilis BPS tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Instagram-nya @smindrawati menyoroti perihal peranan APBN akan terus diandalkan dalam melakukan fungsi countercyclical, terutama untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi yang muncul akibat situasi dunia yang bergejolak.
“APBN juga senantiasa berperan penting dalam menjaga stabilitas dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tulisnya.
Terbukti, dengan sejumlah stimulus yang diluncurkan pemerintah, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh sebesar 4,97 persen pada triwulan II-2025. Konsumsi yang tumbuh tinggi ini ditopang oleh konsumsi transportasi dan restoran.
“Pengeluaran masyarakat terutama untuk bidang transportasi, restoran sejalan dengan mobilitas masyarakat terutama libur sekolah yang merupakan target pemerintah untuk menstimulasi kegiatan melalui berbagai insentif yang diberikan,” kata Sri Mulyani.
Adapun, stimulus insentif yang terkait dengan mobilitas ini adalah diskon tarif transportasi, mulai dari kereta api, bus antar kota hingga pesawat. Pemerintah pada masa libur Lebaran hingga libur sekolah memang memberikan diskon dengan menurunkan PPN tarif transportasi. Bahkan, pemerintah juga memberikan diskon tarif tol pada periode tersebut.
“Tarif transportasi yang didiskon melalui PPN-nya yg diturunkan sehingga hari libur mampu menstimulus perekonomian dengan support APBN,” tegasnya.
Dia mengklaim insentif ini memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga daya beli masyarakat. Selain diskon transportasi dan tarif tol, pemerintah juga memberikan bantuan subsidi upah (BSU). Sri menuturkan insentif ini memberikan efek multiplier ke konsumsi rumah tangga.
Tidak hanya itu, konsumsi rumah tangga juga didorong oleh adanya pencairan gaji ke-13 PNS pada triwulan II-2025.
“BSU ini langsung masuk ke dalam akunnya masing-masing pekerja formal dan tentu ini langsung menciptakan juga multiplier melalui konsumsi rumah tangga. Selain itu pada triwulan ke-2 dilakukan pencairan gaji ke-13 yang nilainya cukup signifikan lebih dari Rp 37 triliun,” papar Bendahara Negara ini dalam konferensi pers realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025, Selasa (5/8/2025).
Oleh karena itu, lanjut Sri, kita harus terus merawat optimisme dan bekerja bersama agar Indonesia mampu melanjutkan tren positif ini di tengah kondisi global yang masih menantang.
*Pertumbuhan Dalam Sorotan*
Ternyata, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen mendapat sorotan dari berbagai pihak. Media asing seperti CNBC, Reuters, dan Vietnam News Agency (VNA) juga menyoroti capaian ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Dalam jajak pendapat Reuters, sebagaimana dilansir Kompas.com (07/08), pertumbuhan triwulan II-2025 diperkirakan hanya 4,80 persen. CNBC pada Selasa (05/08) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Tanah Air melampaui ekspektasi pasar dan menjadi yang tertinggi sejak kuartal II-2023.












