Wacana Ganti Nama Jalan Perintis Kemerdekaan Jadi Jalan Prof Ahmad Amiruddin

Jalan Prof Ahmad Amiruddin
Peluncuran Buku A. Amiruddin Nahkoda dari Timur

Karena itu, saya dalam obrolan kami itu menyampaikan, perlu dikasi bunyi usulan tersebut dalam acara peluncuran buku, biar lebih banyak mendapat dukungan. Sebab, usulan bisa dilakukan oleh komunitas, dalam hal ini melalui IKA Unhas.

Usulan ini sejatinya tak hanya bertalian dengan penanda fisik, berupa nama jalan. Lebih daripada itu, terkait dengan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai, konsep kepemimpinan, dan visi besar Prof Ahmad Amiruddin.

Beliau mengembangkan kepemimpinan dengan visi strategis dan budaya kerja yang efektif. Beliau merupakan pelopor yang menempatkan Unhas sebagai instansi pertama di Indonesia yang gaji karyawannya dibayarkan melalui bank.

Beliau juga yang merintis pembangunan dan pengadaan rumah bagi dosen dan staf Unhas, sesuatu yang baru di Indonesia, kala itu. Perumahan dosen Unhas ini terdapat di Sunu, Antang, dan Tamalanrea.

Ketika menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, yang ke-4, gebrakan juga dilakukan. Antara lain, memindahkan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan dari Jalan Jenderal Ahmad Yani ke Jalan Jenderal Urip Sumoharjo. Yang fenomenal dari pemindahan ini, yakni karena lahan di atas kantor baru itu tadinya merupakan kompleks pekuburan Tionghoa, yang kemudian direlokasi ke Pannara, Antang.

BACA JUGA:  FIFA Matchday: Indonesia Panen Gol Atas China Taipei

Di masa beliau, juga dilakukan revitalisasi kawasan Benteng Somba Opu. Di atas area benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo, terdapat paviliun dan rumah-rumah adat miniatur Sulawesi Selatan atau Taman Mini Sulawesi Selatan.

Kebutuhan papan dan kesejahteraan pegawai Kantor Gubernur Sulawesi Selatan juga diperhatikan. Maka kepada mereka disediakan perumahan, mulai dari pegawai Golongan I hingga Eselon. Lengkap dengan fasilitas antar jemput pegawai, dari rumah ke kantor, pulang-pergi.

Prof Ahmad Amiruddin yang pernah punya posisi penting di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) itu terkenal dengan Tri Konsep Pembangunan Sulawesi Selatan. Program inovasi yang diingat sebagai smart practice ini, terdiri dari perubahan pola pikir, pengwilayahan komoditas, dan petik-olah-jual.

Konsep ekonomi kawasan yang dikembangkan menempatkan daerah ini memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Juga Sulawesi Selatan berhasil sebagai lumbung pangan nasional.

Prestasi dan sejarah sudah diukir oleh intelektual-birokrat itu dan sudah menjadi memori kolektif bagi mereka yang besar di era 70-90an- para generasi Baby Boomers dan Generasi X. Namun, bagi Generasi Milenial dan setelahnya, perlu ada narasi dan literasi tentang sosok Prof Ahmad Amiruddin, penerima Medali Perjuangan Angkatan 45, Bintang Legiun Veteran, Satyalancana Wirya Karya, Santyalancana Pembangunan (koperasi), Santyalancana Pembangunan (pertanian), Bintang Mahaputra Utama, dan sederet penghargaan prestisius lainnya.

BACA JUGA:  Peringatan Dini Cuaca Sulsel: Bone Hingga Torut Berpotensi Hujan Lebat

Sehingga sangatlah layak dan merupakan suatu penghormatan bila nama Prof Ahmad Amiruddin disematkan dan diabadikan mengganti nama Jalan Perintis Kemerdekaan. Jalan ini membentang sejauh 11 kilometer, dari Jembatan Tello hingga Simpang Lima Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Artinya, bila nanti sudah diganti maka mereka yang akan masuk Kota Makassar bakal melewati jalan itu bila tidak lewat tol, demikian pula sebaliknya. Penggantian nama jalan ini membuat kita akan selalu menyebut dan mengingat nama Prof Ahmad Amiruddin, yang banyak berkontribusi, tak sebatas bagi kemajuan daerah, melainkan juga bagi bangsa dan negara ini. Semoga terwujud. (*)