Seandainya Lakkang Jadi Laboratorium Wisata Berkelanjutan (1)

Lakkang
Naik pincara ke Lakkang

Ayah satu orang anak ini bercerita, lokasi dermaga lama yang dari Kera-Kera itu, punya orang tuanya. Sementara lokasi dermaga yang sekarang, milik orang tua dari Haji Sainuddin, bernama Daeng Muda. Makanya, dermaga berukuran 6×12 meter yang diresmikan oleh Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin, pada 5 Januari 2022 ini, diberi nama Dermaga Muda Lakkang. Meski dermaga dipindahkan, tapi dia sebagai pappalimbang lama, bersama dua saudaranya, tetap dipanggil.

“Pengelola perahu di sini kebanyakan masih punya hubungan keluarga,” jelas De’sisi.

Ketika kami sedang ngobrol, terlihat ada penumpang yang mengarahkan kendaraannya ke perahu De’sisi. Buru-buru dia meminta penumpang itu ke perahu lain, di depannya. Ketika saya tanyakan, mengapa dia mengarahkan mereka ke perahu di depan? Jawabnya, mereka harus antre, biar saling berbagi. Saat penumpang sudah naik ke perahu, menunggunya pun tidak lama. Durasinya paling hanya sekira 10 menit. Setelah itu perahu akan jalan ke seberang.

Di Dermaga Muda Lakkang ini, kata De’sisi, ada 7 perahu pincara yang beroperasi. Ongkos sekali menyeberang, termasuk murah, cuma Rp3.000. Itu hitungan paket, sudah termasuk sepeda motor, pengendara dan boncengannya. Kalau hanya pejalan kaki, tanpa kendaraan, tarifnya hanya Rp2.000/orang Biasanya, penumpang paling banyak terjadi pada pagi dan sore hari, saat orang pergi dan pulang kerja, termasuk anak sekolah. Dalam sehari rata-rata De’sisi bisa mengantongi penghasilan antara Rp100.000-Rp150.000.

BACA JUGA:  Hening dan Haru Warnai Sholat Ghaib dan Doa Bersama di Gedung DPRD Makassar 

Penghasilan sebesar itu terbilang lumayan. Karena pengeluarannya tidak seberapa. Untuk keperluan bahan bakar mesin perahu, misalnya, sebotol bensin ukuran seliter, bisa digunakan selama 3 hari. Katanya, kalau hanya untuk bolak-balik mengantar penumpang ke dermaga sebelah, cukup irit. Tidak banyak bahan bakar yang dihabiskan.

Aspek pelayanan dengan memperhatikan aktivitas warga menjadi pertimbangan jam operasi mereka. Biasanya, De’sisi sudah berada di dermaga sejak pukul 05.30. Setelah sholat Subuh, dia sarapan lalu bersiap menjalankan aktivitas rutinnya hingga pukul 18.00 wita. Jadwal itu, katanya, khusus untuk dirinya. Sebelum Magrib, ketika matahari di barat akan tenggelam, dia sudah meninggalkan dermaga, untuk pulang ke rumah. Jadwal De’sisi ini berbeda dengan waktu kerja pappalimbang lainnya, yang kebanyakan beraktivitas mulai pukul 07.00 sampai pukul 23.30 wita.

Dahulu, kisah De’sisi, satu perahu dikelola 2 orang, yakni dia dan Daeng Sija, sepupunya. Berkat bantuan dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) Kota Makassar, dia bisa punya perahu sendiri. Perahu pappalimbang ini, merupakan kreasi sederhana, berupa dua unit perahu pincara yang dirakit menjadi satu bagian, dihubungkan dengan papan-papan sebagai alasnya. Agar penumpang terlindung dari panas dan hujan, dibuatkan tenda dari bahan vinyl. Vinyl ini merupakan bahan sintetis terbuat dari polivinil klorida (PVC).

BACA JUGA:  FIFGROUP Nobatkan Guru Penggerak Literasi Keuangan sebagai Duta MENYALA di Teacher Summit 2025

Saya lalu mendongak ke atap perahu yang sudah digunakan selama kurang lebih 4 tahun ini. Benar saja, ada tulisan besar tercetak di sana. Karena posisinya terbalik dan terhalang balok kayu yang dijadikan rangka tenda, saya mengeja tulisan yang dibuat dengan digital printing itu: PERAHU PAPPALIMBANG. “Zakat berdayakan mustahik dan mensejahterakan umat”. Ada juga hashtag, #Berzakatki, #Salamakki #Gerakancintazakat Baznas Kota Makassar. Mustahik adalah sebutan untuk orang atau golongan yang berhak menerima zakat, di antaranya fakir miskin.

“Kalau papannya sudah agak lama dipakai, saya ganti demi keamanan dan keselamatan bersama. Namun, kalau tendanya ada yang sobek, saya melapor ke Baznas untuk diganti,” jelas De’sisi.