Monitoring Program Tematik KKNT Gelombang 113 Desa Mangepong Jeneponto 

Teknologi tepat guna, dengan akses yang terjangkau, membuka kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil, hal demikian menjadi perhatian utama dari Riati Timbil dari prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya.

Selanjutnya Kiki Rahmadani, mahasiswa prodi Agroteknologi mengadakan Pelatihan pembuatan pupuk organik dan kompos di desa Mangepong, hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang cara mengolah bahan-bahan organik menjadi pupuk yang berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah secara alami.

Dalam pelatihan ini, masyarakat diajarkan teknik-teknik dasar dalam memilih bahan baku seperti daun, rumput, limbah dapur, atau kotoran hewan yang dapat digunakan sebagai bahan kompos. Selain itu, mereka juga akan mempelajari proses dekomposisi yang terjadi selama pembuatan kompos, yang melibatkan mikroorganisme untuk mengubah bahan organik menjadi humus yang bermanfaat bagi tanaman.

Ditambahkan Muh Reski Pratama, bahwa materi teori, pelatihan ini juga mencakup praktik langsung dalam pembuatan kompos dengan memperkenalkan berbagai metode seperti komposting terbuka, komposting dalam tumpukan, atau penggunaan alat khusus seperti komposter. Peserta akan belajar cara mengatur kelembaban, aerasi, dan suhu yang optimal untuk mempercepat proses dekomposisi.

BACA JUGA:  Ingin Salurkan Bantuan ? Berikut Titik Pengungsian Banjir 3 Kecamatan di Makassar

Dengan memahami proses ini, diharapkan peserta dapat memproduksi pupuk organik dan kompos secara mandiri yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan berbahaya bagi ekosistem, demikian penjelasan dari Rezki Mahasiswa Fakultas Peternakan unhas ini.

Budaya di desa sering kali mencerminkan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, yang meliputi berbagai aspek kehidupan, seperti tradisi, seni, kerajinan, dan adat istiadat. Budaya ini memiliki kaitan erat dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) masyarakat desa, karena banyak usaha di desa Mangepong Kecamatan Turatea yang berakar pada warisan budaya tersebut. Misalnya, produk kerajinan makanan khas yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, oleh karen aitu Suci Mahasiswa Prodi Antropologi Fisip Unhas, membina UMKM masyarakat Desa Mangepong berbasis Budaya selama pelaksanaan KKN, dengan luaran merancang dan membuat panduannya.

Lain halnya dengan Junika Sinaga, mahasiswa prodi Manajmen Sumberdaya Perairan, telah melakukan pelatihan Budidaya Ikan di Dalam Ember, Budidaya ikan dalam ember merupakan peluang yang menjanjikan terutama bagi Masyarakat Mangepong yang memiliki lahan terbatas. Dengan modal yang relatif rendah, kita dapat memulai budidaya ikan seperti lele, nila, atau gurame dalam ember atau wadah kecil lainnya. Sistem budidaya ini memungkinkan pengontrolan kualitas air dan pakan secara lebih mudah, serta mengurangi risiko penyakit yang biasa terjadi pada kolam besar.

BACA JUGA:  SMP-SMA Wahdah Islamiyah Bersama KITA Palestina Kumpulkan Donasi 100 Juta untuk Korban di Gaza

Selain itu, pemeliharaan dalam ember juga memberi keuntungan dari sisi efisiensi ruang dan penggunaan air yang lebih hemat. Potensi pasar ikan konsumsi yang terus berkembang, serta kemudahan dalam pemasaran langsung ke konsumen atau restoran, menjadikan budidaya ikan dalam ember sebagai bisnis yang berkelanjutan.
Monitoring program kerja menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam pelaksanaan setiap kegiatan yang telah direncanakan.

Hasil pemantauan ini menjadi bukti nyata bahwa peserta KKN Desa Mangepong telah bekerja dengan maksimal sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam seminar program kerja bersama masyarakat. Berbagai pencapaian yang telah diraih memberikan dampak positif, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi ke depannya.