Dari Diskusi Budaya Membaca Membaca Budaya: Perlu Ada Ideologi & Mitos Baru dalam Kebudayaan

Budaya
Diskusi Budaya Membaca Membaca Budaya

Dr.Syafruddin Mahtamar, S.H.,M.H. menyebutkan membaca budaya adalah proses transisi tradisionalisme dalam wadah modernitas. Kita tidak menyoal modernisme, tetapi melihat implikasi dari modernitas. Modernisme melihat pada masalah materialisme.

“Budaya itu sudah berbaur dengan modernisme, sehingga membuat kita tidak tahu apa yang disebut dengan tradisi,” ujar Syafruddin Muhtamar.

Kemudian mengenai agama dan tradisi, kita tidak perlu pertentangkan. Tradisi itu akar katanya “tradicium”, ikatan ke surga. Kalau kita melihat di dalam La Galigo, itu ada nilai-nilai spiritualitas, apakah itu dalam agama Buddha atau yang lainnya atau apakah ajaran keilahian masa lampau dalam bentuk agama formal. Jadi, budaya itu adalah kelanjutan nilai-nilai tradisionalisme, sementara materialisme untuk membangun masyarakat industri.

“Bahkan dalam membangun budaya kita membangun masyarakat modern. Orang modern berpikir manajemen, sistematik, dan seterusnya,” ujarnya.

Yeni Rahman, anggota Komisi E DPRD Sulsel merespon bahwa tulisan-tulisan yang dibuat oleh para penulis dapat diterbitkan. Dia mengatakan, untuk tahun ini tidak dapat berbuat banyak karena penetapan anggaran tahun 2025 sudah ditetapkan sebelum dia bergabung di lembaga legislatif itu dan tidak dapat lagi diutak-atik.

BACA JUGA:  UANG PALSU

“Namun untuk tahun depan, nanti Maret 2025 baru akan dibahas,” ujarnya.

Yeni Rahman mengatakan, jika pemerintah provinsi, dalam hal ini Gubernur, cinta literasi, seharusnya dapat menerbitkan karya-karya para penulis tersebut. Mestinya, para pemimpin harus memberi contoh membeli buku yang ditulis para penulis di daerah ini.

“Pada saat pameran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) banyak barang yang dipamerkan. Orang-orang yang melihat pameran barang-barang itu hanya mengatakan ‘bagus’, tetapi tidak membeli. Sekali-sekali yang membeli itu mulai dari para pejabat. Insya Allah saya akan beli kalau buku ini jadi diterbitkan, ” ujar anggota dewan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang aktif dalam pembinaan Komunitas Anak Pelangi ini.

Yeni Rahman berpendapat, kegiatan literasi itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Tidak harus seseorang itu harus meraih sarjana. Banyak pemimpin lahir tanpa pendidikan yang tinggi. Institusi tertinggi bukan perguruan tinggi, melainkan ada di rumah tangga, ada pada para wanita.

Diskusi tersebut dihadiri sejumlah penulis, budayawan, sastrawan, wartawan, pustakawan, staf dari Disdik Maros, Pinrang, Takalar, Gowa, Makassar, dan Anggota PKK Kecamatan Tamalate. (mda).