Promovenda mengemukakan, penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan informasi terkait konflik antara Bima dan Makassar di Manggarai pada abad XVIII, khususnya di wilayah Reo dan Pota. Catatan sejarah yang ada saat ini hanya menjelaskan terjadinya konflik tanpa mengungkapkan penyebabnya secara rinci.
“Padahal, Bo’ Abdul Kadim, sebuah manuskrip peninggalan Kesultanan Bima yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Bima dengan aksara Jawi, berisi informasi penting mengenai sejarah Kerajaan Bima pada abad XVIII, termasuk konflik di Manggarai,” kunci Cucu Sultan Bima ini dalam orasinya. (MDA).












