Pameran Tunggal Lukisan Ishakim: Inspirasi bagi Pelukis Muda

Makassar, NusantaraInsight — Seni lukis tidak selalu harus berbicara melalui bentuk yang mudah dikenali. Kadang-kadang, sapuan warna, garis, bentuk, dan komposisi justru mengajak penikmatnya untuk berhenti sejenak, melihat lebih dalam, lalu membangun tafsirnya sendiri. Suasana itulah yang terasa dalam pameran tunggal lukisan Ishakim yang resmi dibuka pada 1 Oktober 2026.

Pameran tersebut tidak hanya menarik perhatian para seniman dan perupa, tetapi juga kalangan akademisi. Salah satunya Nasri A. Muhammad Abduh, pustakawan yang juga dosen Mata Kuliah Umum (MKU) Bahasa Inggris Universitas Hasanuddin, yang menyempatkan diri mengunjungi galeri bersama keluarganya pada Sabtu (3/10/2026).

Pameran tunggal Ishakim mengangkat tema “PASAR: Transaksi Rupa dalam Gua Batu.” Belasan karya lukisan abstrak dipajang dalam ruang pamer, menghadirkan berbagai bentuk dan komposisi yang memberikan ruang luas bagi pengunjung untuk membangun interpretasi masing-masing.

Ishakim tidak membatasi penikmat karya-karyanya pada satu tafsir tertentu. Setiap pengunjung diberi kebebasan untuk melihat, merasakan, dan menerjemahkan sendiri apa yang hadir melalui karya-karya tersebut. Pendekatan semacam ini membuat lukisan tidak berhenti sebagai objek visual, tetapi berkembang menjadi ruang dialog antara seniman, karya, dan penikmatnya.

BACA JUGA:  LARIK BAHAGIA MALLIPA

Bagi Nasri, tema “PASAR” yang diangkat Ishakim memiliki kesan yang unik. Di satu sisi, konsep yang dibangun melalui istilah gua batu membawa imajinasi pada sesuatu yang purba dan jauh dari kehidupan modern. Namun, di sisi lain, beberapa objek yang hadir dalam lukisan justru memperlihatkan nuansa kehidupan kontemporer.

Di antara karya-karya tersebut, Nasri menangkap kehadiran objek seperti becak dan sepeda yang seolah terparkir di sekitar sejumlah stan tempat berlangsungnya transaksi jual beli. Pertemuan antara kesan purba dan objek kehidupan sehari-hari tersebut membuat karya Ishakim menarik untuk diamati dari berbagai sudut pandang.

“Meski tema yang diangkat terkesan purba, sejumlah lukisannya justru terlihat modern,” ujar Nasri saat memberikan pandangannya mengenai karya-karya yang dipamerkan.

Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk berbincang mengenai perjalanan seni Ishakim. Dalam perbincangan itu, Ishakim turut bercerita tentang perjalanan pendidikannya ketika pernah menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), meskipun pendidikan tersebut tidak sempat diselesaikannya. Setelah itu, ia kembali ke Makassar dan melanjutkan perjalanan hidup serta proses kreatifnya di kota kelahirannya.

BACA JUGA:  Owner Shean Beauty, Heny Suhaeny, Akan Launching & Bincang Buku "Mimpi yang Tak Dianggap"

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa proses menjadi seorang seniman tidak selalu berlangsung melalui jalan yang lurus. Pendidikan formal, pengalaman hidup, lingkungan, serta keberanian untuk terus berkarya dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang perupa dalam menemukan bahasa visualnya sendiri.

Bagi Nasri, terlepas dari bagaimana pengunjung menafsirkan setiap karya yang dipamerkan, keberanian Ishakim menghadirkan karya dalam sebuah pameran tunggal merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Lebih jauh, ia melihat karya-karya tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi seniman muda untuk terus berani berkarya dan memperlihatkan hasil kreativitas mereka kepada publik.

“Lukisan-lukisan ini sangat menginspirasi seniman-seniman muda untuk terus berkarya,” ungkap Nasri.

Menurutnya, sebuah pameran tidak semata-mata dapat diukur dari seberapa banyak karya yang dipajang atau bagaimana karya tersebut ditafsirkan. Pameran juga menjadi ruang belajar bagi seniman dan pengunjung. Bagi seniman muda, keberadaan pameran seperti ini dapat menjadi pemantik keberanian untuk mulai menciptakan karya, bereksperimen dengan gagasan, dan menemukan karakter artistik masing-masing.