Pameran Tunggal Ishakim: WARNA-WARNA YANG SALING TAWAR-MENAWAR

Oleh: Asia Ramli Prapanca

Makassar, NusantaraInsight — Mohon maaf, Ishakim. Saya tak sempat hadir menyaksikan kanvas-kanvasmu terpajang malam ini. Tubuhku tertahan di ruang peristirahatan – letih yang tersisa usai hajatan kebudayaan kita tempo hari. Besok malam saya baru akan beranjak, melintas transit di Kendari sebelum akhirnya menepi kembali ke kampung halaman kita, Wakatobi.

Sejak persahabatan kita membentang tiga dekade silam, saya telah menghafal betul idiom visual, bentuk, dan olah warna lukisanmu – bahasa rupa yang juga pernah engkau presentasikan di sanggar Teater Kita Makassar.

Kanvasmu senantiasa bergelora oleh warna. Namun, warna-warna itu tidak sekadar hadir; mereka saling tawar-menawar, menyerupai dinamika di arena pasar. Pasar dalam amatanmu bukan sekadar ruang mekanis transaksi barang dan modal, melainkan sebuah panggung etnografis: tempat interaksi sosial yang bising, dinamis, dan sarat akan negosiasi nilai.

Dari berbagai perbincangan panjang kita, tema pasar yang engkau usung bukanlah sekadar mimesis visual atau dokumentasi tumpukan dagangan. Pasar adalah metafora hidup atas dialektika sosial, budaya, dan pergolakan emosional masyarakat kita.

BACA JUGA:  Puisi Pensiun Aspar Paturusi Dapat Apresiasi dari Paguyuban Purnabhakti Pegawai Kemenpora RI

Dialektika Warna sebagai Arena Negosiasi
Sebagaimana pembacaan etnografis tentang pasar tradisional: tidak pernah ada harga yang mutlak sebelum dicapai kesepakatan antara penjual dan pembeli. Tawar-menawar adalah ritus negosiasi batas – sebuah ruang perjumpaan di mana dua kepentingan saling bergesekan, mendekat, hingga menemukan titik keseimbangan yang rapuh namun padu.

Engkau menerjemahkan ritus sosial ini ke atas bidang kanvas melalui perbenturan antarwarna. Warna primer, sekunder, rona hangat, dan dingin diletakkan saling berjejal, menimpa, menerobos, dan mengisi. Merah yang lugas bertengkar dan bernegosiasi dengan biru yang tenang; kuning yang benderang menawar ruang di atas pekatnya bidang kecokelatan.

Engkau tidak memperlakukan warna sebagai pigmen statis, melainkan membiarkannya bersitegang, menyesuaikan diri, hingga akhirnya melahirkan harmonisasi visual – sebuah kompromi sosial di tengah keriuhan lanskap pasar.

Pasar sebagai Arena Denyut Keseharian
Lanskap pasar tradisional dalam lukisanmu—mengingatkan kita pada riuh pasar-pasar di Gowa dan Makassar—adalah sebuah mikrokosmos komunitas. Di sana terhimpun narasi-narasi mikro kehidupan: cemas dan harap para pedagang, kalkulasi para pembeli, desibel percakapan yang tumpang-tindih, hingga gestur tubuh dan aroma riuk yang sibuk. Pasar adalah ruang di mana garis batas kelas, karakter, dan latar belakang melebur ke dalam satu ritme kolektif.

BACA JUGA:  Legalitas Danantara

Limbah Marmer Leang-Leang

Dalam beberapa catatan kurator Fauzi sahabat karib, engkau memanfaatkan limbah marmer Leang-Leang dalam karyamu. Ini pancapaian etnografis yang sangat memikat dalam pameranmu, karena menurut kurator hal itu tampak pada delapan karyamu yang mengolah bubuk limbah marmer dari kawasan prasejarah Gua Leang-Leang, Maros. Di sini, engkau tidak hanya melukis di atas bidang kosong, tetapi sedang melakukan arkeologi visual.