Oleh Aslam Katutu – _Pembina Ikatan Penulis Muslim Indonesia [IPMI]_
Makassar, NusantaraInsight — Banyak kalangan akhir-akhir ini mengatakan bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Kalimat itu tentu tidak boleh kita telan mentah-mentah sebagai sebuah kesimpulan bahwa semuanya sedang buruk. Tetapi juga tidak bijaksana jika kita menutup mata terhadap berbagai persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Coba kita lihat di sekitar kita.
Antrean kendaraan di sejumlah SPBU yang mengular. Air PAM yang mengalir tidak normal. Listrik yang masih mengalami pemadaman di sejumlah tempat. Gas LPG 3 kilogram yang kadang sulit diperoleh masyarakat. Belum lagi berbagai bencana alam yang datang silih berganti—erupsi gunung, gempa bumi, banjir, longsor dan berbagai peristiwa lainnya.
Bagi sebagian orang, semua itu mungkin hanya menjadi berita yang lewat di layar telepon genggam. Tetapi bagi masyarakat yang mengalaminya secara langsung, persoalan tersebut menyentuh kebutuhan paling dasar dalam kehidupan.
Ketika BBM sulit diperoleh, aktivitas ekonomi terganggu. Ketika listrik padam, pekerjaan dan pelayanan masyarakat ikut terhambat. Ketika air bersih tidak mengalir dengan baik, rumah tangga menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Ketika gas bersubsidi sulit ditemukan, masyarakat kecil kembali harus menghitung pengeluaran hariannya.
Di sinilah nurani kita seharusnya mulai terusik.
Bukan untuk mencari siapa yang salah. Bukan pula untuk memperbesar kemarahan. Apalagi menjadikan setiap persoalan sebagai alasan untuk saling menyalahkan.
Saya justru ingin mengajak kita melihat persoalan bangsa dari sudut pandang yang lebih dewasa: mari kita serius mengurusi bangsa ini.
Serius bukan berarti harus selalu turun ke jalan. Serius juga tidak selalu berarti harus berada di panggung politik. Tidak semua persoalan bangsa harus diselesaikan dengan demonstrasi.
Ada banyak cara untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus menawarkan jalan keluar.
Bagi para cendekiawan, akademisi, intelektual dan penulis, salah satu jalannya adalah melalui tulisan.
Tulisan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan suara nurani. Tulisan dapat menjadi kritik yang tidak kehilangan akal sehat. Tulisan dapat menjadi tempat bertemunya data, gagasan, pengalaman dan harapan.
Karena itu, saya merasa terpanggil untuk ikut menyiapkan ruang bagi mereka yang ingin menyampaikan suara nuraninya melalui tulisan.Melalui Ikatan Penulis Muslim Indonesia, dimana sebagai posisi sebagai Pembina mengajak semua Anggota IPMI memberikan kontribusi dengan tulisan yang akan dijadikan sebagai Buku Antology Artikel dan Essai dan diterbitkan secara ekslusif dan dipersembahkan kepada negeri tercinta ini.
Kita membutuhkan tulisan yang berani, tetapi tidak provokatif. Kritis, tetapi tidak menghina. Tajam, tetapi tetap beradab. Berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan persaudaraan.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang mungkin masih perlu diperbanyak adalah orang-orang yang bersedia menggunakan kepintarannya untuk memikirkan kepentingan bersama. Kepentingan bangsa ini.
Kita juga perlu memberikan ruang yang cukup kepada pemerintah untuk lebih banyak berbuat dan berkarya.
Pemerintah hari ini tentu memiliki begitu banyak pekerjaan dan tanggung jawab dalam kondisi “sedang tidak baik-baik saja” . Kita boleh mengkritik kebijakan yang dianggap kurang tepat, mempertanyakan pelayanan yang belum memuaskan dan menyampaikan kritik terhadap persoalan yang belum terselesaikan.
Namun, kritik seharusnya tidak berhenti pada kalimat, “Pemerintah harus berbuat sesuatu.”












