Festival Sastra Kepulauan IX, Andi Taslim : “Bukan Sekadar Perhelatan Biasa”

Gowa, NusantaraInsight — Festival Sastra Kepulauan IX 2026 yang berlangsung 18–20 September 2026 di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, bukan sekadar perhelatan biasa. Hal itu ditegaskan Sekretaris Panitia, Andi Taslim Saputra, S.Pd., M.Sn., saat ditemui usai kegiatan, Minggu (20/9/2026).

“Sastra Kepulauan IX-2026 bagi saya bukan hanya sebagai wadah perhelatan sastra saja, melainkan rumah bagi penyair senior, penyair baru, serta calon penyair untuk tumbuh bersama meramu gagasan secara kolektif, merawat kembali ingatan, dan menelorkan berbagai ekspresi teks (baca: teks dramatik maupun teks pertunjukan),” ujar Andi Taslim.

Ia menambahkan, festival ini perlu terus ditumbuhkan secara simultan dan berkelanjutan karena menjadi salah satu bentuk pelibatan masyarakat yang menumbuhkan ekosistem sastra kepulauan. “Sekali lagi, Sastra Kepulauan ini harus terus menjadi rumah yang hidup agar generasi selanjutnya menemukan ruang untuk tumbuh,” katanya.

Tentang Festival Sastra Kepulauan

Festival Sastra Kepulauan adalah ajang tahunan bergengsi yang menghimpun penyair, pengarang, dan penggerak literasi dari berbagai wilayah kepulauan Indonesia untuk mempererat jejaring dan memperkuat ekosistem sastra nasional. Ajang ini digagas dan dikelola oleh Sanggar Seni Teater Kita Makassar, dengan dukungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen (Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan) serta sejumlah mitra kebudayaan daerah.

BACA JUGA:  Ini yang Dinanti-nanti ! Festival Sastra Kepulauan IX 2026 Gelar Workshop Pertunjukan Sastra di Benteng Somba Opu

Pada edisi IX 2026, festival mengusung tema “Merawat Tradisi Puitik, Menautkan Keberagaman Kampung” dan menyajikan sebelas agenda utama, meliputi panggung sastra, dialog sastra, workshop penulisan dan seni pertunjukan, kemah sastra, pameran dan peluncuran buku, serta lomba kreatif seperti baca puisi dan penulisan. Salah satu tradisi penting festival ini adalah penerbitan antologi puisi yang melibatkan puluhan penyair lintas daerah; pada 2026, antologi “Kata-kata yang Menyeberang” menghimpun karya 62 penyair, termasuk dari Malaysia.

“Rumah” yang Harus Tetap Hidup

Dalam keterangannya, Andi Taslim menekankan dimensi sosial-ekologis festival ini: bukan hanya seremoni tahunan, tetapi ruang hidup yang merawat ingatan kolektif dan memberi ruang tumbuh bagi generasi baru.

Pernyataan itu selaras dengan semangat festival yang membuka partisipasi pelajar, mahasiswa, komunitas seni, dan masyarakat umum tanpa biaya pendaftaran, sekaligus menjadikan Benteng Somba Opu sebagai simpul pertemuan sastra dan keberagaman.