DOA-KU: 81 TAHUN INDONESIA MERDEKA

_Ahmad Yani

Yaa Allah izinkan hamba-Mu ini memanjatkan doa
sebagai rasa syukur atas kemerdekaan bangsa kami.
81 Tahun yang lalu, Engkau selamatkan negeri kami,
Engkau lepaskan bangsa kami dari belenggu penjajah.

Yaa Allah, Tuhan yang Maha Menilai.
Sungguh hati kami iri dan risih,
melihat para pejabat berpakaian rapi, berdasi, dan muka berseri-seri,
melaksanakan upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Bangsa kami depan sana.
Ingin rasanya berdiri tegak dan hormat kepada Sang Merah Putih bersama mereka.
Tapi apalah daya kami tidak seberuntung mereka.
Di hari kemerdekaan ini, hamba masih harus bergelut dengan urusan perut.

Engkau menyaksikan, di balik gerobak lotek kami,
Hamba berdiri tegak dan hormat saat bendera Merah Putih dikibarkan depan gedung sana.
Air mata hamba jatuh, mengenang jasa-jasa pahlawan yang sebenar-benarnya pahlawan kami:
menjaga, melindungi, dan memerdekakan negeri kami.
Namun saat ini sulit rasanya mengakui di depan sana adalah sebenar-benarnya pejabat
yang mengerti dan memahami kesulitan kami.

Bagi kami, kemerdekaan adalah ketika perut kami terisi, itu sudah cukup,
Anak-anak kami bisa merasakan pendidikan terbaik di negeri tercinta, itu sudah sempurna.
Kami bisa tidur di rumah yang layak, itu melebihi sempurna.
Dan kami tidak diliputi rasa cemas akan biaya makan 1 bulan ke depan, itu mungkin mustahil.
kehidupan kami benar-benar serba sulit.

BACA JUGA:  NGOPI DAN BUKU

Yaa Allah, jika hamba punya kuasa,
ingin rasanya sehari saja di hari Kemerdekaan ini,
merasakan jadi ‘perampok negara’ yang dilindungi dan tak tersentuh hukuman.
berkeliaran ke mana saja, berpura-pura hormat kepada Sang Merah Putih,
namun hati mereka busuk, mengotori, dan menodai Sang Merah Putih.
Tapi ini berat bagi hamba dan ampuni keinginan Hamba,
serta jatuhkanlah hukuman-Mu bagi mereka, ‘perampok’ itu.

Yaa Allah, sungguh di hari Kemerdekaan ini kami tidak tahu harus mengadu ke mana lagi.
gerobak-gerobak kami sering diangkut paksa di pinggir jalan.
padahal Engkau mengetahui di gerobak itulah kami bergantung dari rezeki-Mu.
hamba bukan pemalas dan telah berusaha mencari penghidupan layak,
namun benar-benar buntu dan tidak ada pilihan lain.
Penghidupan layak bagi orang seperti hamba terasa dongeng
di negeri yang katanya kaya raya sumber daya alamnya.

Ingin mengadu kepada pejabat, rasanya sulit.
Jangankan mengadu, minta hak kami saja pun sering dipersulit.
mau melawan, kami takut ditangkap dan dipenjara,
dengan dalih melawan pemerintah.
Mereka hanya memerdekakan koleganya, namun kerap menjajah kami.