Makassar, NusantaraInsight — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo beberapa hari lalu mengundurkan diri. Posisi yang ditinggalkannya digantikan Deputi Senior BI Destry Damayanti selaku pejabat sementara. Pengunduran diri Perry Warjiyo ini menimbulkan tanda tanya. Meskipun Warjiyo sendiri menyebutkan pengunduran dirinya dengan alasan pribadi.
Terus terang, mengundurkan diri bagi seorang pejabat di Indonesia, apalagi sekelas Gubernur BI, tidak lazim terjadi. Jangankan mengundurkan diri, didesak publik mundur saja, seorang pejabat itu ogah mengundurkan diri. Memang pada tahun 2009, Budiono selaku Gubernur BI mengundurkan diri tetapi karena digaet Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon wakil presiden yang kemudian terpilih. Warjiyo selama ini dikenal cukup tangguh menghadapi berbagai kritikan terhadap peran BI dalam konstelasi ekonomi Indonesia yang terus fluktuatif. l
Misteri pengunduran diri Warjiyo ini semakin memantik tanda tanya publik karena dia tidak muncul dalam sesi konferensi pers yang dilaksanakan bagi pengumuman pengunduran dirinya. Dia diketahui tak hadir saat pengumuman pengunduran diri yang disampaikan oleh Deputi Senior BI Destry Damayanti bersama pembantu Presiden Prabowo Subianto pada Senin (27/7/2026). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Perry mundur karena ‘alasan pribadi’
Muncul spekulasi, ada dugaan Warjiyo mengundurkan diri karena ada masalah dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudha Sadewa. Sumber Reuters sebagaimana dilansir Republika menyebutkan, diduga terjadi “korsleting” antara Purbaya dengan Warjiyo terkait kebijakan likuiditas.
Menteri Keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terhimpun dalam entitas Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Bisa saja terjadi miskomunikasi ketika terjadi rapat lembaga ini.
Tiga sumber Reuters, tulis Republika, terjadi perselisihan antara Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo mengenai strategi pertumbuhan ekonomi sebelum pengunduran diri itu. Ketegangan bahkan dilaporkan terjadi selama berbulan-bulan di antara keduanya. Reuters menyebut Bank Indonesia berada di bawah tekanan untuk mendukung agenda pertumbuhan besar Presiden.
Salah seorang sumber itu mengatakan bahwa pemikiran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa likuiditas harus berlimpah bertentangan dengan upaya BI mengelola nilai tukar. Persoalan itu bahkan menjadi sumber perdebatan internal yang cukup panas.
“Purbaya menginginkan likuiditas yang melimpah, tetapi situasi ini akan memberikan tekanan pada rupiah,” kata orang pertama yang menggambarkan Purbaya memiliki pengaruh signifikan terhadap presiden menurut Republika.


br
br
br






br
br






br