News  

Gerakan Environmental Hygiene di Lapas Kelas 1 Makassar

Mashud Azikin, pakar eco enzym dari yayasan Butta Porea Indonesia
Mashud Azikin, pakar eco enzym dari yayasan Butta Porea Indonesia

NusantaraInsight, Makassar — Di balik tembok tinggi yang selama ini identik dengan keterbatasan, sesungguhnya tersimpan harapan untuk perubahan. Lembaga Pemasyarakatan bukan hanya ruang menjalani hukuman, tetapi juga ladang pembinaan—tempat manusia dipulihkan, ditumbuhkan, dan dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dengan kualitas hidup yang lebih baik. Dari semangat inilah, lahir sebuah inisiatif yang bukan hanya menyentuh aspek pembinaan, tetapi juga kesehatan dan kelestarian lingkungan: *Gerakan Environmental Hygiene di Lapas Kelas 1 Makassar.*

Yayasan Butta Porea Indonesia, yang sebelumnya telah menjalin kerja sama strategis dengan Lapas Kelas 1 Makassar melalui program *Integrated Urban Farming*, kini melangkah lebih jauh. Tidak hanya membangun kemandirian pangan dan keterampilan warga binaan, tetapi juga menghadirkan gerakan hidup sehat berbasis lingkungan. Gerakan ini menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kualitas hidup warga binaan, petugas, serta seluruh ekosistem yang ada di dalam lapas.

Environmental Hygiene yang diusung bukan sekadar slogan, melainkan aksi konkret yang menyentuh akar persoalan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Salah satu inovasi utama dalam gerakan ini adalah pemanfaatan *eco enzyme* sebagai bahan sanitasi alami. Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, yang memiliki manfaat luar biasa sebagai pembersih alami, pengurai limbah, serta penghilang bau dan bakteri.

BACA JUGA:  Kokohkan Perjuangan Pahlawan Menuju Indonesia Emas 2045, Kemenkumham Gorontalo Tabur Bunga di TMP Pentadio

Dalam implementasinya, eco enzyme akan digunakan secara rutin melalui penyemprotan di berbagai titik strategis di lingkungan lapas. Drainase yang selama ini menjadi sumber bau tidak sedap dan potensi berkembangnya bakteri, akan menjadi sasaran utama. Selain itu, area-area tertentu yang rawan kotor dan lembab juga akan ditangani secara berkala. Bahkan, penyemprotan eco enzyme akan menjangkau hingga ke dalam kamar-kamar hunian warga binaan, menciptakan ruang hidup yang lebih bersih, sehat, dan layak.

Gerakan ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga proses pemberdayaan. Eco enzyme yang digunakan tidak dibeli atau didatangkan dari luar, melainkan diproduksi secara mandiri di Kebun Asimilasi dan Edukasi. Produksi ini dilakukan oleh Yayasan Butta Porea Indonesia dengan dukungan penuh dari bidang Bimbingan Kerja (Bimker) Lapas Kelas 1 Makassar. Di sinilah warga binaan dilibatkan secara aktif, belajar mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat, sekaligus membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan.

Sosok penting di balik pengembangan eco enzyme ini adalah Mashud, seorang pakar eco enzyme yang juga merupakan anggota Yayasan Butta Porea Indonesia. Keahliannya telah diakui, bahkan dipercaya oleh Pemerintah Kota Makassar dalam membantu mengatasi persoalan sampah berbasis solusi alami. Tidak hanya itu, penerapan eco enzyme juga telah diaplikasikan di beberapa hotel di Makassar, dengan hasil yang terbukti efektif dalam menjaga kebersihan dan menghilangkan bau secara ramah lingkungan.

BACA JUGA:  Open Tournament Kapolres Pro Cup 1 Mobile Legend & E-Football Championship Kolaka Digelar

Keberhasilan tersebut menjadi dasar optimisme bahwa gerakan Environmental Hygiene di Lapas Kelas 1 Makassar akan membawa dampak signifikan. Lebih dari sekadar membersihkan lingkungan, gerakan ini adalah transformasi cara pandang—bahwa limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari manfaat baru. Bahwa kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi budaya yang harus dibangun bersama.

Dengan gerakan ini, lapas tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kumuh dan tidak sehat, melainkan sebagai ruang pembelajaran hidup yang berkelanjutan. Sebuah tempat di mana manusia tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga menemukan kembali makna hidup, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.