NusantaraInsight, Makassar — Langit Makassar senja itu seakan turun lebih dekat ke bumi. Dari balik dinding kaca Phinisi Ballroom Claro Hotel, cahaya jingga memantul di deretan kursi dan meja yang telah disusun rapi.
Di panggung utama, sebuah gendang besar berdiri, diam namun seolah menyimpan gema sejarah panjang perantauan Bugis-Makassar yang tak pernah benar-benar usai.
Suara riuh rendah percakapan para saudagar mengisi ruangan. Sekitar dua ribu orang datang dari berbagai penjuru Indonesia menyatu dalam satu ikatan identitas, darah Bugis-Makassar yang menyimpan ingatan tentang laut, layar, dan keberanian merantau.
Di tengah arus ekonomi global yang bergelombang, mereka berkumpul bukan sekadar untuk nostalgia, tetapi untuk merumuskan cara baru bertahan dan tumbuh.
Ketika H.M. Jusuf Kalla melangkah menuju gendang, ruangan seketika menahan napas. Inisiator Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) itu mengangkat pemukul gendang, ditemani Ketua Umum BPP KKSS, H. Andi Amran Sulaiman.
Satu hentakan dilesatkan, bunyinya memecah udara seperti aba-aba berangkat, sebuah isyarat bahwa PSBM XXVI tahun 2026 resmi dimulai.
Dentumannya bergema, seakan memantul ke masa lalu dan kembali lagi ke hari ini, membawa pesan yang sama: dagang bukan hanya soal untung, tapi juga tentang daya tahan sebuah bangsa.
Di antara tamu-tamu penting hari itu, Bupati Bantaeng, M. Fathul Fauzy Nurdin, duduk menyimak dengan mata yang sesekali menyapu ruangan. Ia datang membawa nama sebuah kabupaten kecil di pesisir selatan Sulawesi Selatan, yang pelan-pelan menata diri di tengah pusaran perubahan ekonomi.
Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan seremoni; ada tekad yang lebih sunyi namun tegas: ikut menyumbang tenaga dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Tema pertemuan tahun ini, “Saudagar Tangguh, Ekonomi Tumbuh”, menggantung di backdrop panggung.
Kalimat sederhana, namun di baliknya terhampar kenyataan getir: situasi ekonomi global sedang tidak baik. Harga komoditas naik-turun tak menentu, rantai pasok dunia tersendat, dan negara-negara berlomba menyelamatkan diri masing-masing.
Di tengah itu semua, saudagar Bugis-Makassar kembali mengingat akar mereka: bahwa ketangguhan bukan hadir dari kenyamanan, melainkan dari kemampuan bertahan di tengah badai.
Ketua panitia pelaksana, H. Ibnu Munzir, berdiri memberi laporan. Ia menyebut angka-angka, menyampaikan fakta bahwa para saudagar datang dari berbagai sudut Nusantara dari kota-kota besar yang sibuk sampai pelabuhan-pelabuhan kecil yang sering luput dari peta.












