Sekian Dekade Podium Masjid Mengajak

_By : Rahman Rumaday_

“Setiap orang punya panggungnya masing-masing,” kata Jalaluddin Rumi, “dan di mana pun ia berdiri, di situlah ia sedang diuji,”

NusantaraInsight, Makassar — Kata-kata itu terngiang ketika saya kembali berdiri di sebuah podium masjid, setelah sekian dekade lebih akrab dengan podium yang lain: jalanan, lorong, dan sudut-sudut kota. Tempat di mana debu lebih banyak daripada karpet, dan suara anak-anak lebih riuh daripada gema mikrofon.

Ramadhan 1447 H/2026 menjadi saksi peristiwa yang bahkan tidak saya rencanakan. Saya berdiri lagi di atas mimbar, bersongkok, berbaju koko, seperti seorang ustaz yang rapi dan tenang. Padahal, hampir tak pernah saya memakai songkok. Seorang teman pernah berseloroh, “Sepertinya saya lihat kau pakai songkok setahun cuma dua kali Idul Fitri dan Idul Adha.” Sepertinya ia benar. Dan saya hanya tertawa. Hahaha…

Songkok itu terasa seperti simbol bukan sebatas penutup kepala, tetapi penutup jarak antara masa lalu dan masa kini.

Padahal, berdiri di podium masjid bukanlah hal asing bagi saya. Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah terbiasa menyampaikan ceramah. Dari dalam kota hingga luar kota, dari panggung kecil hingga mimbar yang lebih besar. Setiap bulan Ramadhan, suara saya bersama sejumlah teman bahkan pernah direkam untuk tadarrus Al-Qur’an di RRI Fakfak untuk diputar di RRI setiap selesai sholat tarawih selama bulan ramadhan. Saya masih ingat bagaimana degup jantung saat mikrofon dinyalakan, bagaimana setiap huruf harus dilafalkan dengan kesungguhan.

BACA JUGA:  Dr M Dahlan Abubakar, Sejatinya Seorang Wartawan Intelektual

Bersama tim safari Ramadhan, kami berkeliling kampung. Dari Fakfak, Papua Barat, hingga beberapa wilayah di Maluku. Setiap kecamatan memiliki kisahnya sendiri yakni anak-anak yang duduk bersila paling depan, ibu-ibu yang menyimak dengan mata teduh, bapak-bapak yang mengangguk pelan ketika ayat dibacakan. Ramadhan terasa seperti jalan panjang yang penuh cahaya.

Saya juga pernah mengikuti lomba ceramah antar sekolah, antar instansi, bahkan antar kecamatan di Fakfak. Beberapa kali nama saya dipanggil sebagai juara tiga. Tidak selalu yang pertama, tapi cukup untuk membuat saya percaya bahwa suara ini punya tempat.

Namun waktu adalah guru yang tak pernah berhenti mengubah kita.

Sejak kuliah, saya tak lagi menginjak podium masjid. Dunia saya bergeser. Mimbar saya berpindah. Saya lebih sering berbicara tentang literasi, tentang pemberdayaan, tentang pendidikan, tentang lorong dan masyarakat pinggiran, hingga ke pulau-pulau.

Saya berdiri bukan di atas sajadah, tetapi di atas aspal dan tanah merah. Saya belajar bahwa dakwah tidak selalu harus bersuara lantang di mimbar; kadang ia hadir dalam bentuk mendengar, membersamai, dan membersihkan lorong dari sampah yang tak kasat mata yakni putus asa dan ketidakpedulian.Seperti kata Buya Hamka, “Agama bukan hanya di atas mimbar, tetapi dalam denyut kehidupan.” Mungkin itulah yang tanpa sadar saya pilih. Saya lebih sering berdiri di podium jalanan di ruang-ruang sosial, di komunitas, di sudut kota yang jarang disorot lampu.

BACA JUGA:  KEMARAHAN SETENGAH HATI DARI SULAWESI

Dan ketika malam ke-7 Ramadhan, 24 Februari 2026, saya diminta berdiri di mimbar Masjid Abu Adam di kawasan Tol Insinyur Sutami, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, itu bukanlah sebuah perencanaan panjang. Ia lebih seperti kebetulan yang memaksa. Seolah ada tangan tak terlihat yang berkata, “Sekali lagi, berdirilah.”

Saya menyadari, berdiri di podium masjid bukan sebatas soal menyampaikan ceramah. Ia adalah perjumpaan antara masa lalu yang penuh semangat remaja dan masa kini yang ditempa pengalaman. Ia adalah dialog antara idealisme dan kenyataan. Ia adalah pengingat bahwa ilmu yang pernah