Di Antara Air Sahur dan Air Mata: Rindu yang Tak Pernah Usai di Bulan Ramadhan

Oleh : Ardhy M Basir

NusantaraInsight, Makassar — Ada sesuatu yang selalu terasa hilang setiap memasuki Bulan Suci Ramadhan. Bukan sekadar suasana rumah yang berbeda, bukan pula hanya sunyinya meja makan saat sahur. Yang paling terasa adalah ketiadaan Ayah dan Ibu.
Setiap Ramadhan datang, kenangan itu seperti diputar kembali dengan begitu jelas.

Terutama sosok Ibu. Beliau punya cara unik membangunkan saya untuk sahur. Tak cukup hanya memanggil nama atau menggoyang pundak. Jika saya tak juga bangun, wajah saya akan dibasuh dengan air. Dan benar saja, bantal pun sering kali basah karenanya. Cara sederhana, tapi penuh cinta. Cara yang hari ini justru paling saya rindukan.

Dulu saya sering menggerutu, setengah sadar, setengah kesal. Kini, justru saya berharap ada yang kembali membasuh wajah ini dengan air sahur yang dingin itu. Sebab di balik percikan air itu, ada kasih yang tak pernah terucap panjang, tapi nyata dalam tindakan.

Ayah saya, M. Basir, lebih dulu menghadap Sang Pencipta pada 14 Oktober 1985 dan Ibu St. Syam wafat ketika akan balik ke tanah air usai melaksanakan haji. Saat itu, saya sudah memiliki seorang putra dan seorang putri. Nama yang diberikan Ayah untuk cucunya terasa begitu istimewa: Waldhy—gabungan dari nama saya, Ardhy, dan istri saya, Walasari. Tak lama kemudian, lahirlah adiknya, Anastasia, yang kehadirannya melengkapi kebahagiaan kecil kami sebagai keluarga. Orang tua zaman dulu memang luar biasa dalam merangkai makna, bahkan lewat sebuah nama. Di balik nama itu ada doa, ada harapan, ada jejak cinta yang ingin terus hidup lintas generasi.

BACA JUGA:  MIWF 2024: Keseruan Bersama Teman Bus, Berbagi Nostalgia, Bernyanyi Menikmati Makassar

Namun bukan itu yang paling mengusik hati saya setiap Ramadhan tiba.

Yang sering mengendap dalam dada adalah satu rasa: saya belum sempat membahagiakan mereka sepenuhnya. Belum mampu memberi kesenangan yang layak untuk Ayah dan Ibu. Perasaan itu datang diam-diam, terutama ketika sujud terasa lebih lama dari biasanya. Dalam hening, ada penyesalan yang menyelinap.

Mengapa dulu tak lebih sering memeluk mereka? Mengapa tak lebih banyak meluangkan waktu? Mengapa baru terasa kehilangan setelah benar-benar ditinggalkan?

Dalam setiap doa, saya hanya mampu memohon,
“Ya Allah, sayangi mereka, jaga mereka, lindungi mereka sebagaimana mereka menyayangiku, menjagaku dan melindungiku semasa hidupnya. Maafkan segala dosa-dosanya, terima seluruh amal ibadahnya, dan bebaskan mereka dari siksa apa pun di alam sana.”

Jumat, 13 Februari 2026, di Masjid Wal Ashri, doa itu kembali terucap dengan lirih. Entah mengapa, air mata tak mampu lagi dibendung. Di antara lantunan dzikir dan sunyi yang khusyuk, nama Ayah dan Ibu terus saya sebut. Ada rindu yang tak pernah selesai, ada cinta yang tak pernah putus meski maut telah memisahkan.