Oleh: Dr. Zulkarnain Hamson, S.Sos., M.Si.
Pembina Organisasi Jurnalis di Sulawesi Selatan
NusantaraInsight, Makassar — Pemerintah wajib menyiapkan dana sertifikasi dan jangan membebankan kepada jurnalis juga perusahaan tempat ia bekerja. Sertifikasi bertujuan agar jurnalis berkualitas dan bisa membantu pemerintah, sedangkan tanpa tunjangan dari negara.
Dalam banyak catatan, termasuk yang penulis alami, peringatan HPN setiap tahun bertujuan untuk merefleksikan peran pers sebagai pilar demokrasi yang bebas dan bertanggung jawab. Isu demokratisasi sudah terlalu menjenuhkan, dan saat ini isu pentingnya adalah “Ekonomi Media” sebagai tugas pemerintah yang tetap harus disuarakan.
Momentum HPN juga merujuk pada berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada 9 Februari 1946, sebagai organisasi wartawan pertama yang menjadi pilar pers perjuangan insan pers di tanah air, sudah harus ditinjau kembali mengingat saat ini telah berdiri resmi banyak organisasi jurnalis nasional dan diakui pemerintah.
Pada 7 Desember 2007, sekelompok penulis pemuda mendeklarasikan Hari Pers Indonesia sebagai peringatan atas hari penguburan jasad Tirto Adhi Soerjo di gedung Indonesia Menggugat. Hari ini, 9 Februari 2026, usia pers nasional Indonesia menginjak 80 tahun. Dirayakan dalam peringatan “Hari Pers Nasional” (HPN).
Perayaan HPN ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 5 Tahun 1985 yang juga bertepatan dengan ulang tahun PWI, juga sudah harus ditinjau kembali, agar HPN bukan hanya milik satu organisasi wartawan. Semua telah berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Peringatan HPN ke-80 secara historis dari 1946 ke 2026 adalah 80 tahun, dan presiden sebelumnya menyebut HPN ke-79 pada 2025. Secara historis Pers Nasional lahir di masa perjuangan kemerdekaan, dengan perintis seperti Tirto Adhi Soerjo dan berdirinya Kantor Berita Antara pada 1937.
Perkembangan pers Indonesia kurun waktu 2020-2025 dan solusi permasalahannya, dapat dilihat dari perkembangan pers Indonesia kurun waktu 2020-2025, ruang lingkup masalah dan solusinya.
“Penurunan kualitas jurnalistik” akibat “Clickbait” dan Algoritma
dalam kurun waktu 2020-2025, pers Indonesia mengalami krisis kualitas yang serius akibat dominasi platform digital.
Media cenderung mengejar kecepatan dan sensasionalisme (clickbait) demi mendulang impresi iklan, mengorbankan verifikasi dan kedalaman berita. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap media arus utama menurun, dan masyarakat justru lebih sering terpapar hoaks yang menyebar cepat, merusak tatanan informasi yang sehat.












