Mahasiswa KKN 115 Unhas Berdayakan Siswa SDN 4 Arawa Melalui “Youth Pioneer Academy”

NusantaraInsight, Sidrap — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses menyelenggarakan program inovatif bertajuk “Youth Pioneer Academy” di UPT SDN 4 Arawa, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Program ini merupakan wujud nyata dari pengabdian masyarakat dalam mencetak generasi muda yang kreatif, berani, dan berwawasan luas sejak dini.

Program ini dirancang khusus untuk siswa-siswi kelas 6 dengan fokus pada penguatan tiga pilar utama: Bahasa Inggris, Public Speaking, dan Kewirausahaan (Entrepreneurship).

Patricia Clarence, selaku pelaksana utama Youth Pioneer Academy, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya sekadar pemberian teori di dalam kelas.

“Kami ingin memberdayakan anak-anak melalui kegiatan berbasis proyek (project-based learning). Fokus kami adalah bagaimana mereka bisa mengolah barang bekas menjadi karya bernilai jual, sekaligus melatih keberanian mereka untuk berbicara di depan umum tanpa rasa malu,” ujarnya.

Kegiatan intensif ini berlangsung selama empat pertemuan dengan rangkaian kurikulum sebagai berikut:

Pertemuan 1: Menanamkan Jiwa Kepemimpinan dan Ideasi Pada hari pertama, siswa diperkenalkan dengan konsep kepemimpinan (leadership). Mereka belajar membangun kepercayaan diri dan memperkaya kosakata Bahasa Inggris yang berkaitan dengan dunia kepemimpinan. Sebagai langkah awal kewirausahaan, para siswa ditantang untuk merancang prototipe produk inovatif secara berkelompok, mengasah kemampuan berpikir kritis dan kerja sama tim.

BACA JUGA:  Implementasi Program MBG di SDN Parinring Makassar

Pertemuan 2: Membangun Identitas Melalui Branding Memasuki hari kedua, siswa diajak menyelami dunia pemasaran melalui materi branding. Mereka belajar bahwa sebuah produk bukan hanya soal fungsi, tetapi juga identitas. Para siswa antusias merancang elemen visual seperti nama merek, logo, hingga slogan kreatif untuk produk mereka. Sesi ini bertujuan agar siswa memahami cara memberikan nilai tambah (value) pada sebuah karya agar menarik minat masyarakat.

Pertemuan 3: Kreasi Tanpa Batas dari Barang Bekas Pada pertemuan ketiga, suasana kelas berubah menjadi bengkel kreatif. Siswa mulai mengeksekusi ide mereka dengan membuat karya fisik menggunakan bahan dasar barang bekas. Di sini, nilai keberlanjutan (sustainability) ditekankan; siswa diajarkan bahwa inovasi bisa lahir dari benda-benda di sekitar yang sudah tidak terpakai. Proses produksi ini menjadi ajang pembuktian ketekunan dan ketrampilan tangan mereka.

Pertemuan 4: Selebrasi Inovasi dan “Pitching Day” Puncak acara ditandai dengan presentasi hasil karya di hadapan teman-teman dan mentor. Setiap kelompok mempraktikkan kemampuan public speaking mereka dengan mempromosikan produk yang telah dibuat dalam format “pitching” sederhana. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi awarding sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi siswa, serta penyerahan sertifikat secara simbolis kepada wali kelas UPT SDN 4 Arawa sebagai tanda kemitraan pendidikan yang berkelanjutan.