WhatsApp Digunakan Tiga Miliar Orang di Dunia

WhatsApp
Dr. Zulkarnain Hamson, S.Sos., M.Si. (Peneliti Media Sosial)

Oleh: Dr. Zulkarnain Hamson, S.Sos., M.Si. (Peneliti Media Sosial)

NusantaraInsight, Makassar — MEMASUKI tahun 2026, aplikasi WhatsApp telah bertransformasi menjadi infrastruktur komunikasi global, digunakan oleh lebih dari 3 miliar orang di seluruh dunia untuk berkirim pesan, juga panggilan suara, hingga layanan bisnis. WA memutus rantai ketergantungan pada pemakaian pulsa biasa GSM.

Digunakan pertama pada 24 Februari 2009 oleh Jan Koum dan Brian Acton, dua mantan karyawan Yahoo! yang memiliki visi untuk menciptakan aplikasi komunikasi efektip sederhana sebagai alternatif SMS berbiaya rendah. Nama “WhatsApp” sendiri dipilih sebagai pelesetan dari frasa “What’s Up” yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Istilah WhatsApp “Pedang Bermata Dua” dalam arus Informasi, WhatsApp telah bertransformasi menjadi saluran komunikasi utama di Indonesia, yang mengaburkan batas antara komunikasi pribadi dan penyebaran informasi publik. Disatu sisi, aplikasi WA memfasilitasi konektivitas yang cepat dan efisien.

Namun, kecepatannya acap kali juga mengabaikan akurasi, menjadikan grup WhatsApp sebagai inkubator utama akses penyebaran hoaks, disinformasi, dan konten misinformasi yang pasti meresahkan. Kebijakan pembatasan forward pesan seringkali tidak berdaya melawan budaya “bagikan tanpa baca” yang tertanam kuat dalam masyarakat.

BACA JUGA:  Muruah Kampus dan Kursus Politik pada Pemilu 1999

WA memicu erosi privasi dan komodifikasi data pengguna. Dibalik kemudahan yang ditawarkan, WhatsApp menyimpan risiko privasi serius melalui kebijakan data yang semakin terintegrasi dengan induk perusahaannya, Meta.

Masyarakat seringkali tidak sadar atau abai bahwa data metadata, seperti pola interaksi, waktu aktif, dan keanggotaan grup, dikumpulkan dan berpotensi diolah untuk tujuan komersial atau profil pribadi. Meskipun pesan teks dienkripsi, pengumpulan data sekunder menuntut kesadaran kritis yang lebih tinggi dari pengguna untuk melindungi ruang pribadinya.

Tanpa disadari telah terjadi ketergantungan digital dan penurunan kualitas interaksi sosial. WA dan
keberadaannya memicu ketergantungan sekaligus menyebabkan pola komunikasi tatap muka pribadi menurun drastis. Masyarakat, khususnya generasi muda, rentan mengalami kecemasan sosial dan penurunan konsentrasi akibat ketergantungan pada gawai dan notifikasi WA yang tiada henti-hentinya.

Fenomena itu juga menciptakan paradoks sosial, “terhubung secara digital namun terisolasi secara fisik” dimana kualitas interaksi langsung digantikan oleh simulasi percakapan yang cenderung dangkal.

Saluran “Cyberbullying” dan “Tekanan Psikologis” bisa dengan mudah karena fitur grup dan percakapan pribadi menjadikan WA sebagai media yang rentan penyalahgunaan, terutama untuk cyberbullying dan perundungan online. Tekanan untuk selalu “siap sedia” (always on) menciptakan kecemasan mental “Fear of Missing Out” (FOMO) dan stres kronis bagi penggunanya.