Senja, Kelapa Muda, dan Percakapan yang Tak Ingin Cepat Usai di Danau GTC

NusantaraInsight, Makassar — Langit di atas Danau GTC Makassar perlahan berubah warna sore itu. Biru yang sejak siang bertahan, kini melebur dengan jingga, seolah matahari enggan benar-benar pergi. Angin datang pelan, menyibakkan permukaan air dan membawa aroma danau yang lembut bercampur udara kota yang mulai tenang.

Di tepiannya, tiga sosok duduk berderet menghadap air: Ardhy M Basir, Arwan Awing, dan Rahman Rumaday. Tak ada yang istimewa dari penampilan mereka sore itu. Justru kesederhanaan itulah yang membuat momen terasa utuh. Di tangan masing-masing, sebuah kelapa muda—airnya dingin dan bening, dagingnya tebal, sedotan dan sendok plastik kecil terselip di lubang buah kelapa.

Mereka tak sedang mengejar apa pun. Tidak waktu, tidak urusan. Hanya duduk, bernapas, dan membiarkan senja mengalir seperti percakapan mereka.

“Kalau begini, rasanya hidup melambat sedikit,” ucap Ardhy sambil memandang riak air yang memantulkan cahaya jingga. “Padahal kota tetap sibuk di belakang sana.”
Arwan tersenyum kecil, mengaduk daging kelapa di buahnya. “Justru itu enaknya. Kita yang berhenti, bukan dunianya,” katanya pelan. “Kadang kita cuma lupa cara berhenti.”
Tawa ringan menyusul. Bukan tawa keras, melainkan tawa yang lahir dari rasa saling mengerti.

BACA JUGA:  Demo Anarkis: Menghancurkan Diri Sendiri

Kelapa muda yang mereka teguk seolah lebih dari sekadar minuman. Setiap sedotan seperti menyapu penat, menurunkan suhu kepala yang mungkin sejak pagi dipenuhi urusan. Dingin dan ditambah pemanis gula areng, tapi cukup untuk membuat sore terasa lebih ramah.

Rahman memecah hening sejenak. “Dulu kita sering kumpul tanpa rencana. Sekarang, kumpul begini saja rasanya seperti hadiah,” ujarnya, matanya masih ke arah danau.

Tak ada yang langsung menimpali. Mereka mengerti maksudnya. Usia, tanggung jawab, dan jarak waktu sering mencuri hal-hal kecil yang dulu terasa biasa. Dan sore itu, di tepi danau, mereka seperti mengambil kembali sesuatu yang sempat tercecer: waktu bersama.

Di sekitar mereka, orang-orang berjalan santai. Ada yang berolahraga, ada yang berfoto, ada anak kecil berlari mengejar bayangan sendiri. Namun dunia di sekitar terasa jauh, seperti suara latar yang lembut.

“Lucu ya,” kata Ardhy lagi, memiringkan buah kelapa yang airnya mulai mengurang. “Bahagia kadang cuma sebuah kelapa muda dan teman yang tepat.”
Arwan mengangguk. “Dan senja yang nggak buru-buru,” tambahnya.
Matahari makin turun. Cahaya jingga berubah tembaga, lalu perlahan meredup. Lampu-lampu di sekitar kawasan danau mulai menyala satu per satu, menggantikan peran matahari yang pamit. Buah-buah kelapa mereka hampir kosong, tinggal potongan daging kelapa yang disendok pelan, seakan tak ingin benar-benar mengakhiri sore.
Percakapan belum selesai, dan mungkin memang tak perlu selesai. Karena yang mereka rajut di sana bukan hanya kata-kata, tapi rasa: rasa cukup, rasa dekat, rasa bahwa hidup—meski sering rumit—masih menyediakan ruang kecil untuk tenang.