Cuaca Ekstrem Datang, Pohon Tumbang—Kabel Tetap Terjuntai

Oleh: Ardhy M. Basir (Wartawan Senior)

NusantaraInsight, Jeneponto — Setiap kali cuaca ekstrem melanda, satu respons petugas Perusahaan Listrik Negara ( PLN )selalu terasa paling cepat: menebang pohon. Dari kota hingga daerah seperti Jeneponto, gergaji mesin seolah menjadi jawaban tunggal atas angin kencang dan hujan deras. Pohon ditebang, dahan dipangkas, lalu persoalan dianggap selesai. Padahal, masalah utamanya justru terus menggantung—secara harfiah—di udara.

Di banyak titik, kabel listrik PLN terlihat terjuntai rendah, kusut, dan jauh dari kata aman. Saat angin kencang bertiup, kabel-kabel itu bergoyang liar, bersinggungan dengan atap rumah, bahkan nyaris menyentuh tanah. Kondisi ini bukan rahasia, bukan pula baru terjadi. Namun ironisnya, yang disalahkan hampir selalu pohon.

Warga Jeneponto menyaksikan pola yang sama berulang. Pohon pelindung yang sudah puluhan tahun berdiri ditebang dengan dalih mengganggu jaringan listrik, sementara kabel lama yang rapuh dan pemasangan yang semrawut dibiarkan tanpa pembenahan serius. Alih-alih memperbaiki sistem, PLN memilih jalan pintas yang paling mudah terlihat: menumbangkan yang hijau. Logika ini patut dipertanyakan.

BACA JUGA:  PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPION EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA

Jika setiap angin kencang berujung pemadaman, apakah penyebabnya semata ranting dan daun? Ataukah justru infrastruktur kelistrikan yang tak lagi sebanding dengan tantangan cuaca ekstrem dan perubahan iklim?

Pohon memang bisa menjadi risiko bila tak dirawat, tetapi kabel yang terpasang terlalu rendah dan tak terstandarisasi adalah bahaya nyata. Bahaya bagi anak-anak yang bermain di luar rumah, bagi pengendara, dan bagi warga yang setiap musim hujan hidup dalam kecemasan tersengat listrik atau tertimpa tiang roboh.

Cuaca ekstrem seharusnya menjadi momentum evaluasi total, bukan sekadar aksi simbolik. PLN dituntut untuk berani membenahi jaringan—menaikkan dan merapikan kabel, mengganti instalasi lama, memperkuat tiang, serta menata ulang jalur distribusi listrik. Tanpa itu, penebangan pohon hanya menjadi kambing hitam yang terus dikorbankan.

Masyarakat tak menolak perawatan jaringan. Yang dipertanyakan adalah ketimpangan tanggung jawab. Lingkungan dirusak, risiko tetap ada, dan warga kembali menjadi pihak yang menanggung dampaknya.

Ketika angin kencang kembali datang, publik berharap PLN tak lagi sekadar sibuk menebang. Sebab solusi sejati bukan terletak pada batang pohon yang tumbang, melainkan pada kabel-kabel yang selama ini dibiarkan menggantung tanpa kepastian.

BACA JUGA:  Metafora Cinta Sejati Antara Katokkon dan Cavendis

Jeneponto, 24 Januari 2026