NusantaraInsight, Bima — Ruas jalan provinsi yang menghubungkan Desa Tente dan Kecamatan Parado, tepatnya di sekitar Dam Pela Parado, retak dan terbelah dua sepanjang 100m yang mengakibatkan kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
Informasi yang beredar di media sosial dan bersumber dari detik.com menyebutkan, retaknya jalan yang menjadi urat nadi komunikasi dan lalu lintas antara Kecamatan Monta, Woha dan Kabupaten Bima dengan lima desa yang ada di Kecamatan Parado bisa berakibat kegiatan ekonomi dan pasokan barang ke ibu kota Kecamatan Parado lumpuh. Jalan ini menjadi satu-satunya jalur penghubung kecamatan lain dengan Kecamatan Parado.
Camat Parado Hamzah, S.Sos sudah melaporkan kasus kerusakan jalan ini kepada Badan Penanggulangan Bendana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima dan Balai Besar Jalan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berwenang dengan kerusakan jalan provinsi tersebut.
Dia mengemukakan, rusaknya ruas jalan di pintu masuk Kecamatan Parado ini disebabkan oleh hujan deras yang turun tanpa hentinya dua hari terakhir ini.
Akibat rusaknya jalan tersebut, untuk sementara kendaraan roda empat dilarang melintas demi keamanan. Kendaraan roda dua masih bisa melintas. Jika jalan ini tidak diperbaiki, maka hubungan dengan lima desa di Kecamatan Parado terputus. Kelima desa itu, Paradowane, Paradowato, Kuta, Kanca, dan Lere.
Wartawan media ini yang kembali dari Bima awal Desember 2025 melaporkan, cepatnya kerusakaan jalan di sekitar Dam Pelaparado ini karena di sebelah kiri jalan tidak terdapat selokan yang dapat menyalurkan banjir yang menyalurkan air dari ladang-ladang jagung warga langsung ke tubuh dam. Air yang tergenang menutup badan aspal jalan yang mempercepat kerusakan jalan.
Jalan yang rusak ini merupakan jalan baru yang dibuat ketika konstruksi bendungan Dam Pela Parado selesai 2004. Jalan baru dibuat dengan mengikis lereng gunung yang jaraknya jauh lebih panjang dibandingkan jalan lama. Jalan baru itu dibangun tanpa ada selokan dan gorong-gorong penyalur air.
Retaknya jalan tersebut diduga kuat karena kikisan air yang menghantam bagian bawah jalan. Sementara di kiri kanan jalan, tidak dibangun beton sebagai penahan aliran derasnya dari dari gunung. (mda),












