NusantaraInsight, Makassar — Hari ini, Jumat 27 Rajab 1447 H, bersetuju dengan 16 Januari 2026 Masehi, dalam kalender Islam diperingati sebagai muhibah Israk Mikraj Nabi Muhammad saw. Sudah banyak dikisahkan para ulama, khatib, dan penceramah agama Islam tentang perjalanan yang hanya dapat diterima oleh nalar iman kepada Allah swt tersebut.
Mewarnai peringatan Israk Mikraj tersebut, saya hanya ingin menukilkan dan mendeskripsikan sedikit kisah penerimaan wahyu pertama oleh Muhammad saw. Kisah ini tertuang di dalam catatan Abu Bakar Siraj Ad-Din — lelaki yang terlahir dengan nama baptis di Lancashire, Inggris, 24 Januari 1909 Martin Lings — berjudul “Mohammad: His Life Based on the Earliest Source” (Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik) yang terbit pada tahun 1983.
Karya yang disebut-sebut sebagai karya tentang Sejarah Islam terlaris di dunia ini, dalam versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Serambi Jakarta sejak cetakan I 2016, II (2017), III (2018), IV (2021) dan cetakan V tahun 2022. Dalam versi aslinya, buku ini sudah dicetak sejak 1983, 1986, 1988, dan 1991.
Saya rasa-rasanya memiliki cetakan I dan sudah tiga kali membeli buku yang luar biasa ini karena lupa bahwa pernah membelinya. Setelah saya memberi Ayah untuk mengisi perpustakaan pribadinya di kampung, ternyata sebelumnya sudah pernah saya berikan. Saya pun mengambil kembali satu eksemplar buku tersebut, kemudian ‘menghadiahkan’ kepada keponakan lantaran istrinya tertarik dengan tulisan saya di facebook yang bertutur tentang Pendeta Bahira, satu judul di dalam buku ini.
Buku ini menjadi karya Lings yang paling menonjol di antara banyak karyanya dan sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Lings yang masuk Islam pada usia 31 tahun, meninggal 12 Mei 2005 dalam usia 96 tahun. Kisahnya menjadi mualaf, pada usia itu terjadi saat dia datang ke Mesir hendak mengunjungi seorang temannya, Ftithjol Schuon. Temannya berprofesi sebagai dosen di Universitas Kairo, sekaligus asisten filsuf dan juga juga mualaf kenamaan Prancis, Rene Guenon. Namun saat berkunjung ke Mesir, Schuon tewas karena kecelakaan. Lings pun diminta oleh Guenon menggantikan posisi temannya yang meninggal.
Sejak itu dia mulai mempelajari bahasa Arab, agama Islam, dan ilmu sufisme. Akibatnya, ia merasa Islam bukan saja sebagai satu agama, melainkan juga panduan kehidupan manusia. Sejak itulah ia memutuskan menjadi mualaf, memeluk agama Islam dan mengubah namanya menjadi Abu Bakr Siraj Ad-Din.
Tanda-tanda batiniah
Dalam perjalanan kafilah saudagar Arab menuju Suriah, di Bosra, di dekat persinggahan para saudagar Mekkah, berdiri sebuah biara yang dihuni seorang pendeta Kristen dari masa ke masa. Ketika sang penderta meninggal, yang lain menggantikannya. Mewarisi semua yang ada di dalam biara, termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Di antara salah satu manuskrip itu berisi ramalan tentang datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab.












