Ram Prapanca Gambarkan Pesan “Bayang Kenangan di Langit Biru”

Ram
Ketua IPMI M. Amir Jaya memberikan buku kepada Yudhistira Sukatanya.

NusantaraInsight, Makassar — Asia Ramli Prapanca menggali 23 tulisan dari Buku Cerpen berjudul Ibu, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) ke-3, Rabu (24/12/2025) di Kafebaca Jalan Adhyaksa Makassar.

Salah satu Cerpen yang dia kupas dan menggambarkan pesan yang tersirat dan termaktub di dalamnya, adalah Cerpen berjudul “Bayang Kenangan di Langit Biru” karya Yudhistira Sukatanya.

Menurutnya, ini memiliki pesan yang sangat mendalam tentang kasih sayang, nilai keluarga, dan cara menghadapi kehilangan.

“Pesan utama cerpen ini adalah bagaimana seorang ibu menjadi pusat kebahagiaan dan keteraturan dalam keluarga. Ibu digambarkan sebagai sosok yang penuh persiapan (sigap), perhatian terhadap detail (kebersihan rumah, makanan kesukaan anak), dan penjaga tradisi. Kepergian ibu meninggalkan lubang besar karena dialah yang biasanya menghidupkan suasana rumah,” ungkapnya.

“Melalui kutipan pappasang (pesan leluhur) Makassar: “Jaga bajiki andellekanna atinnu…”, penulis ingin menyampaikan bahwa segala tingkah laku manusia bermuara dari niat hati. Jika hati baik, maka hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia pun akan baik. Ini adalah warisan nilai moral yang lebih berharga daripada harta benda,” ulas Ram.

BACA JUGA:  Calon Rektor Unhas Bahas Permata Karya Prof Kembong Daeng

Lebih dalam, Ram menggambarkan bahwa penulis menekankan bahwa kesabaran adalah sebuah keterampilan spiritual yang harus dilatih. Melalui nasihat ibu dari Al-Baqarah ayat 153, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa dalam menanti atau menghadapi ujian (termasuk kematian), sabar dan salat adalah penolong yang utama.

“Meskipun ibu telah tiada, kasih sayangnya tetap hidup dalam ingatan melalui simbol-simbol sederhana: Langit Biru: Sebagai simbol harapan dan kehadiran ibu. Aroma (Parfum Al Taj): Bagaimana kenangan bisa dipicu oleh indra penciuman. Batuk Kecil: Simbol teguran lembut yang penuh kasih, bukan kemarahan,” urainya.

“Cerpen ini mengingatkan pembaca untuk menghargai setiap momen bersama orang tua selagi mereka masih ada. Tokoh utama merasakan “detak waktu yang merangkak” dan kesedihan yang tajam saat menyadari bahwa kepulangan saudara-saudaranya kali ini bukan untuk disambut oleh ibu, melainkan untuk mendoakan kepergiannya,” tambahnya.

“Pesan cerpen ini adalah ajakan untuk merawat kenangan baik, mempraktikkan kesabaran, dan menjaga kemurnian hati sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua. Ia juga menjadi pengingat bahwa doa adalah satu-satunya “jembatan” yang tersisa untuk menghubungkan kita dengan orang tua yang telah tiada,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Festival Seni Pertunjukan 2025 "Meledak" Sejumlah Begawan Seni Muncul

Acara HUT IPMI yang dihadiri oleh sejumlah sastrawan, akademisi, jurnalis dan juga penggiat literasi seperti Prof Kembong Daeng, Dahlan Abubakar, Muliati Mastura, Andi Wanua Tangke, M.Amir Jaya, Anwar Nasaruddin, Syahriar Tato, Asnawin Aminudin dan juga segenap anggota IPMI ini, juga melakukan diskusi 2 buku karya IPMI yang berjudul Ibu dan Ibu,Gaib.