NusantaraInsight, Makassar — Sastrawan Asia Ramli Prapanca, akrab dengan nama panggung Ram Prapanca akan membawa sastra kepulauan lebih baik lagi di tahun 2025.
Hal ini disampaikan Ram usai menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Studio Kita Makassar, Hartaco Indah Blok 4 AD nomor 10, Parangtambung Kecamatan Tamalate Makassar, Senin (30/12/2024).
Mengangkat tema, Sastra Kepulauan, Representasi, Identitas, Nilai dan Fungsi Budaya Kepulauan, Ram Prapanca menyampaikan bahwa FGD Sastra Kepulauan bertujuan untuk mengumpulkan data atau masukan-masukan dari para peserta.
“Ini juga bertujuan sebagai landasan untuk memperkuat pijakan-pijakan kami untuk melakukan penawaran kegiatan, baik itu forum ataupun festival Sastra Kepulauan,” ungkapnya.
“Tentu pada tahun 2025 nanti, kita di Forum Sastra Kepulauan akan menggali dan menampilkan sastra kepulauan baik itu berupa cerita rakyat, mitos atau legenda. Namun kami tidak menutup mata juga untuk menampilkan sastra modern dalam kegiatan kita nanti,” tuturnya.
“Tentu sastra modern ini masih beririsan dengan budaya-budaya kepulauan. Budaya kepulauan ini, bukan hanya menyasar pada pulau-pulau kecil, tapi masuk juga untuk budaya pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatera tentunya,’ papar Ram Prapanca.
Dan ini tidak ada batasan, lanjutnya, sastra lisan, tulis, nyanyian, lukis dan tari bahkan akan dibuat film.
“Jadi tidak hanya menampilkan seminar semata namun juga ada pertunjukan baca puisi, tari, pameran lukisan dan tentu pertunjukan teater,” kata Ram Prapanca.
Ia menambahkan bahwa mereka telah memilih beberapa lokasi yang akan dijadikan ajang atau pusat kegiatan Sastra Kepulauan pada tahun 2025.
“Kami telah melihat Barru, Maros bahkan hingga ke pulau Buton di Sulawesi Tenggara, namun sepertinya tempat yang paling mudah diakses oleh teman-teman adalah kota Makassar. Jadi kita memilih kota Makassar sebagai pusat kegiatan Sastra Kepulauan tepatnya di Port Roterdam,” tambahnya.
“Tapi kita tidak membuat di awal tahun 2025 nanti, akan tetapi kita agenda pada bulan September 2025 nanti. Dan di dalam festival nanti itu semua ada, baik itu seminar, pementasan seni, budaya berbasis daerah pesisir, semua ada,” tukasnya lagi.
Ram beralasan bahwa alasannya untuk mengangkat tema Sastra Kepulauan adalah dilatarbelakangi oleh kurangnya pementasan seni yang bertema masyarakat pesisir atau sastra kepulauan.
“Padahal kita ini negara kepulauan atau maritim, dengan itu sebenarnya, saya sejak tahun 1995 masih konsen dengan itu,” tambahnya.












