Gelar Tudang Sipulung di Tanjung Selor, KKSS Kaltara Perkuat Peran dan Harmonisasi Daerah

Sementara itu, Karetaker BPW KKSS Kaltara, Dr. Chaerul Amir, SH, MH, mengutarakan bahwa KKSS merupakan wadah pemersatu yang membawa keberkahan bagi keluarga besar Sulsel untuk merajut tali silaturahmi sekaligus menikmati indahnya kebersamaan.

“Kita patut menyyukuri momentum kebersamaan dalam rumah besar KKSS ini, sebagaimana yang senantiasa ditekankan oleh Ketua Umum BPP KKSS, Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian RI, mengenai krusialnya rasa kekeluargaan sebagai perekat utama warga Sulawesi Selatan di perantauan,” ujar Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer Kejagung RI tersebut.

Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kadis Kesehatan Kaltara dr. Usman, SKM, M.Kes, menyampaikan apresiasi atas kontribusi aktif masyarakat Sulawesi Selatan dalam membangun daerah dan merawat persaudaraan. Ia menilai tradisi ‘tudang sipulung’ bukan sekadar sarana berkumpul biasa, melainkan sarat akan nilai-nilai luhur musyawarah dan kebersamaan demi kemaslahatan bersama.

Lebih jauh Gubernur menggarisbawahi bahwa Kalimantan Utara berdiri di atas fondasi keberagaman suku, agama, dan budaya. Oleh sebab itu, memelihara kedamaian dan stabilitas keamanan di provinsi ini merupakan kewajiban kolektif yang tidak hanya bertumpu pada pemerintah atau TNI-Polri, tetapi juga memerlukan peran aktif seluruh komponen masyarakat, termasuk keluarga besar KKSS.

BACA JUGA:  Jadi Idola Masyarakat, Polres Kolaka Perkuat Pengamanan di Pantai Tamborasi

“Saya mengajak kita semua untuk terus memupuk sikap saling menghormati serta mengedepankan ikhtiar musyawarah dalam mengelola keberagaman demi mewujudkan cita-cita bersama. Jangan biarkan perbedaan memicu perpecahan; sebaliknya, jadikan kemajemukan ini sebagai modal sosial untuk memupuk persatuan,” pesan Gubernur Zainal A. Paliwang melalui amanat tertulisnya.

Pemerintah Provinsi Kaltara menegaskan komitmennya untuk terus melangkah mewujudkan visi sebagai benteng depan Republik Indonesia yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Tentu saja, visi besar ini membutuhkan sinergi dan kolaborasi erat dari segenap elemen masyarakat. Kaltara yang maju dicirikan oleh peningkatan kualitas SDM, penguatan sektor pendidikan, inovasi, serta daya saing daerah.

“Kalimantan Utara yang makmur berarti hasil pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja serta akselerasi ekonomi yang merata lewat pemberdayaan UMKM,” papar Gubernur.

Adapun pembangunan berkelanjutan mensyaratkan pemeliharaan kelestarian lingkungan, perlindungan warisan budaya, serta kepastian bahwa buah kemajuan hari ini dapat diwariskan dengan baik kepada generasi mendatang.

“Untuk merealisasikan visi tersebut, saya menaruh harapan besar agar KKSS mengambil peran strategis, mulai dari pemberdayaan ekonomi warga, penguatan kapasitas generasi muda, pelestarian seni budaya, hingga partisipasi aktif menjaga kondusivitas daerah. Saya meyakini, berpegang pada nilai luhur ‘sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge’—yang bermakna saling memanusiakan, menghargai, dan mengingatkan—akan semakin memperkokoh tatanan hidup bermasyarakat yang harmonis di Kaltara,” tutup amanat Gubernur.

BACA JUGA:  Berujung Damai, Polsek Sesean Berhasil Mediasikan Terkait Perselisihan Warga di Bangkelekila

Sebagai informasi, ajang ‘Tudang Sipulung’ ini diselenggarakan sebagai ruang mufakat untuk membangun pemahaman bersama menjelang Musyawarah Wilayah KKSS guna memilih jajaran pengurus organisasi sosial kemasyarakatan asal Sulawesi Selatan yang telah berdiri sejak 12 November 1976 tersebut.

KKSS sendiri pertama kali didirikan di Jakarta oleh 26 tokoh perantau asal Sulsel dari berbagai latar belakang, di antaranya Nabai Sophiaan, Andi Sose, Baharuddin Lopa, H. Ahmad Nurhani, dan Asrul Azis Taba. Organisasi ini berlandaskan asas kekeluargaan dengan misi memupuk silaturahmi warga perantauan Sulsel di luar daerah, sembari tetap memegang teguh dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya daerah asal seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. (*)